Kamis, 09 Februari 2012

Akuntansi Kini Tak Selalu Statis

Akuntansi adalah seni mengukur, berkomunikasi dan menginterpretasikan aktivitas keuangan. Yang dilakukan dengan cara pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian mengenai informasi yang akan membantu manajer, investor, otoritas pajak, dan pembuat keputusan lain untuk membuat alokasi sumber daya keputusan di dalam perusahaan, organisasi, dan lembaga pemerintah. Tujuan akuntansi adalah untuk menyiapkan sebuah laporan keuangan yang akurat agar dapat dimanfaatkan oleh para manajer, pengambil kebijakan, dan pihak lainnya yang berkepentingan. Akuntansi sendiri memiliki beberapa bidang yaitu akuntansi biaya, akuntansi dana, akuntansi forensik, akuntansi keuangan, akuntansi manajemen, akuntansi perpajakan, akuntansi pemerintahan, akuntansi pemeriksaan, dan sistem akuntansi. Saya akan mengupas lebih dalam seputar akuntansi ini ...

Sabtu, 04 Februari 2012

Solutions To Solve Job Vacancy’s Problem


As we know that Indonesia’s job vacancy has so many problem, because there’s still soo many unemployment. From all the problem about this job vacancy, i considered to solve the problem with solutions like :
  • Increasing the human resources quality
Human resources is a major variable of this condition, so the quality of this variable is fully important. We have to considering not only about the quantity but also the quality. Because having a lot job seekers isn’t always bad. It can be good if those people have a good quality tocompete in the real world.  Both of formal and non formal side of education must be considered to be improved. Because not only education that counted in the real world is, but also things like attitude and work ethic are highly needed and became one of crucial things which determined someone’s success.

Jumat, 03 Februari 2012

What's The Best Technology For Our System-Fixer Firm ?

Jika tercetus pertanyaan seperti ini,
Apa teknologi yang terbaik untuk memperbaiki sistem perusahaan kami?
Ini adalah hal yang sangat tergantung kepada seberapa besar harapan dari perusahaan tersebut untuk memproduksi dan memperoleh keuntungan. Tergantung juga kepada jenis perusahaannya.
Ada banyak jenis teknologi yang bisa diaplikasikan untuk memperbaiki sistem dari perusahaan agar dapat melakukan efisiensi, seperti penggantian karyawan manual menjadi tenaga mesin untuk mengasilkan sesuatu atau penggunaan teknologi dalam penanganan data data yang dimiliki perusahaan tersebut, seperti penggunaan software-software akuntansi untuk melakukan pencatatan dan pembukuan perusahaan. 
Untuk sebuah perusahaan padat karya, misalnya pada perusahaan garmen, penggunaan teknologi ini bisa dilakukan di berbagai sisi dan memberikan efisiensi.
Contohnya penggantian penggunaan teknologi pada tenaga penjahit, yang tadinya menggunakan tenaga manual padat karya yang tiap pieces bajunya dikerjakan secara manual oleh pegawai satu persatu jadi diganti menggunakan mesin berteknologi tinggi yang bisa membuat baju dengan efisiensi kain dan waktu. Seperti data pada table yang tertera dibawah ini :


Jumlah Kain
Waktu
Jumlah baju
Padat karya
100 m2
3 hari
10 pieces
Padat Teknologi
100 m2
1 hari
20 pieces
                          

SOEHARTO : “Kehidupan dan Warisan Peninggalan Presiden Indonesia Kedua”



Buku biografi yang menceritakan tentang kehidupan presiden kedua Republik Indonesia ini ditulis oleh Retnowati Abdulgani – KNAPP, anak dari Dr. H. Roeslan Abdulgani yang bersahabat dengan alm. Soeharto. Hubungan ini membuat Retno berkesempatan untuk menulis buku ini.
                Soeharto adalah seorang anak tunggal dari pasangan Kertosudiro (ayah) dan Sukirah (ibu). Soeharto lahir di Kemusuk, Yogyakarta pada 8 Juni 1921 dan diberi nama “Soeharto” oleh bapaknya yang berarti lebih baik kekayaan. Dengan nama ini diharapkan Soeharto dapat menjadi orang yang kaya dan berkedudukan tinggi. Ayah Soeharto adalah seorang petugas irigasi desa dan waktunya banyak dihabiskan dengan berjudi dan merokok. Hobinya ini tentu butuh biaya besar, sampai-sampai Sukirah harus menjual perhiasannya dengan terpaksa. Lama kelamaan Sukirah frustasi karena tidak tahan dengan kelakuan suaminya, lalu ia minta cerai. Karena perkawinan kedua orangtuanya yang tidak langgeng ini, maka bayi Soeharto diserahkan kepada Mbah Kromodiryo (bidan sekaligus adik perempuan nenek Soeharto dari pihak ayah) saat berusia 40 hari untuk diurus oleh neneknya itu, sampai berumur sekitar 4 tahun. Setelah itu Soeharto diambil oleh ibunya lalu tinggal bersama ibunya yang telah menikah lagi dengan Atmopawiro  dan memiliki tujuh orang anak. Atmopawiro sangat menyayangi Soeharto meskipun Sopeharto hanya anak tirinya. Saat berumur delapan tahun, Soeharto dibawa oleh ayahnya untuk tinggal di rumah adik perempuan ayahnya. Ibu Prawirowihardjo, adalah nama dari adik perempuan ayahnya itu. Ibu Prawirowihardjo ini tinggal di Wuryantoro, tempat yang sudah lebih makmur dibandingkan Kemusuk. Prawirowihardjo adalah seorang mantri tani, disinilah Soeharto memahami budaya pertanian dan belajar banyak dari kehidupan bertani beserta para petaninya. Pelajaran yang ia dapatkan bersama keluarga Prawirowihardjo ini turut membentuk prinsipnya dalam cara ia memimpin dan berkuasa di masa mendatang saat ia menjadi pemimpin dan seorang presiden.

Kamis, 26 Januari 2012

Relasi Antara Biaya Dengan Konsumsi dan Produksi

Salah satu cakupan teori dalam ekonomi mikro adalah cost atau biaya. Biaya ini memiliki berbagai macam bentuk dan relasi dengan dua kegiatan terpenting dalam perekonomian yaitu, produksi dan konsumsi. Karena tanpa kedua kegiatan ini maka kegiatan perekonomian akan terhenti.
Definisi dari biaya sendiri adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan telah terjadi untuk tujuan tertentu (Mulyadi; 1993).

Biaya ini memiliki empat unsur pokok dalam definisinya, yaitu :

1.Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi.
2.Diukur dalam satuan uang
3.Yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi
4.Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu.

Analisis Jurnal


Judul
Keunggulan Kompetitif Sektor Industri Manufaktur di Jawa Tengah Sebelum dan Selama Krisis

Nama Pengarang
Hastarini Dwi Atmanti

Tahun
2004

Tema
Keunggulan Kompetitif Sektor Industri Manufaktur



Latar Belakang Masalah

Fenomena
Industrialisasi mulai berkembang sejak tahun 1966 dan pada dasawarsa 1980- an Indonesia mulai muncul sebagai kekuatan industri yang penting diantara negara sedang berkembang. Sektor industri diharapkan mempunyai peranan penting sebagai motor penggerak bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, beberapa kebijakan deregulasi telah di luncurkan oleh pemerintah sejak tahun 1983 untuk menjawab tantangan semakin terbukanya perekonomian dan terbatasnya sumber devisa untuk membiayai pertumbuhan ekonomi tersebut Mengacu pada arah pembangunan nasional, pembangunan di Jawa Tengah di arahkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, yaitu dengan menjadikan pembangunan sektor industri manufaktur sebagai prioritas pembangunan ekonomi dan tetap memperhatikan pembangunan di sektor yang lainnya. Industri manufaktur di Jawa Tengah, selain ditopang oleh industri besar dan sedang, industri kecil dan kerajinan rumah tangga juga oleh industri pengilangan minyak di Cilacap dan Cepu. Secara umum, sumbangan industri manufaktur terhadap PDRB kurun waktu 1996-2000 mengalami tluktuasi. Pertumbuhan industri manufaktur berdasarkan harga konstan dalam periode 1996-2000 cenderung mengalami penurunan.

Riset terdahulu
Berdasarkan data BPS tahun 2000 penurunan sumbangan industri manufaktur terhadap PRDB mengalami penurunan sebesar 14,61% akibat minusnya pertumbuhan sector industry pada tahun 1998 yang dikarenakan krisis moneter.

Motivasi penelitian
Penelitian ini terutama ditujukan untuk menganalisis efisiensi industri manufaktur di Jawa Tengah.


Metodologi Penelitian

Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari Jawa Tengah dalam Angka, Statistik Industri Besar dan Sedang Jawa Tengah, Statistik Industri Besar dan Sedang Indonesia, Statistik Indonesia, Indikator Industri Besar dan Sedang Indonesia, Pedoman Lapangan Pemutakhiran Direktori dan Pencacahan Survei Tahunan Perusahaan Industri Besar dan Sedang yang diterbitkan oleh Biro Pusat Statistik Jawa Tengah maupun Nasional tahun 1995 - 2000. Adapun kelompok industri yang dipakai adalah Klasifikasi Lapangan Usaha Industri (KLUI) dua digit.

Model  penelitian
DEA (Data Envelopment Analysis) yang dikembangkan pertama kali oleh Farrel (1957) dalam Sengupta (1999), kemudian dipopulerkan oleh Charnes, Cooper dan Rhodes (1978) dalam Julnes (2000), serta Banker, Charnes dan Cooper (1984) dalam dalam Dinc dan Haynes (1999). Analisis DEA digunakan untuk mengukur efisiensi sektor industri manufaktur .
Analisis yang kedua adalah analisis  shift-share yang dikembangkan pertama kali oleh Daniel B. Creamer (1943) dalam Prasetyo Soepono (1993) dan dipakai sebagai alat analitik pada permulaan tahun 1960-an oleh Ashby (1964) dalam Prasetyo Soepono (1993). Dan analisis shift-share ini untuk mengetahui keunggulan kompetitif dari sub sektor industri manufaktur.



Hasil dan Analisis Penelitian

Tingkat efisiensi teknik dengan asumsi CRS menunjukkan nilai 100 %. Artinya bahwa rata-rata sub sektor industri manufaktur besar-sedang di Jawa Tengah sudah mampu memaksimalkan pemanfaatan inputnya. Hanya ada dua sub sektor industri manufaktur yang tidak efisien. Yaitu KLUI 33 dan KLUI 35. Tingkat efisiensi teknik pada sub sector industri manufaktur di Jawa Tengah yang telah mencapai nilai 100 % untuk tetap dipertahankan di masa yang akan datang. Karena dengan kinerja yang efisien akan menurunkan biaya operasional dan peningkatan kualitas kerja, sehingga akan mampu mendorong pembangunan di sektor yang lain di Jawa Tengah. Kebijakan-kebijakan untuk tetap mempertahankan tingkat efisiensi pada sub sektor manufaktur adalah dengan mengupayakan pemanfaatan sumber daya alam, sumber daya manusia (tenaga kerja), modal maupun teknologi dengan sebaik-baiknya sehingga dapat mempunyai prospek pasar yang besar baik di dalam maupun di luar negeri. Sehingga industri tersebut dapat dinikmati secara luas oleh masyarakat. Berdasarkan pada kriteria keunggulan kompetitif, maka klasifikasi industri di Jawa Tengah yang lebih unggul dibandingkan dengan tingkat nasional adalah KLUI 31, KLUI 32, KLUI 33, KLUI 35, KLUI 39. Klasifikasi-klasifikasi industri tersebut di Jawa Tengah lebih unggul daripada tingkat nasional karena rij > rin . Sedangkan berdasarkan pada kriteria tingkat spesialisasi, maka klasifikasi industri di Jawa Tengah yang lebih spesialis daripada tingkat nasional adalah KLUI 33, KLUI 34, KLUI 35, KLUI 37, KLUI 38 dan KLUI 39. Hal ini disebabkan karena E' ij > Eij . Sektor-sektor yang tidak mempunyai keunggulan kompetitif dan spesialisasi di Jawa Tengah dari sisi tenaga kerja harus lebih di perhati kan pengembangannya, terutama yang menyangkut kualitas dan biaya ekonomi, melalui peningkatan pendidikan dan pelatihan, baik formal maupun informal. Hal ini dimaksudkan agar pada sektor-sektor yang tidak mempunyai keunggulan kompetitif dan spesialisasi dapat dihasilkan produk yang berkualitas dengan biaya ekonomi yang rendah, sehingga mampu menjadi daya saing yang kuat di pasaran.


Kesimpulan dan Rekomendasi

Berdasarkan jurnal tersebut dapat disimpulkan bahwa sebetulnya rata-rata sub sector industry manufaktur di Jawa Tengah sudah mampu memanfaatkan inputnya dengan maksimal, ditandai dengan asumsi CRS yang telah menunjukkan nilai 100%. Namun memang tidak semuanya telah mencapai nilai 100%. Untuk subsector yang telah mencapai nilai 100% hal itu harus dipertahankan. Namun bagi subsector yang belum mencapai nilai tersebut maka efisiensi harus ditingkatkan, seperti  efisiensi biaya operasional, peningkatan kualitas kerja dengan melakukan pelatihan, pemanfaatan SDM, SDA, dan modal maupun teknologi dengan sebaik-baiknya yang dilakukan baik secara formal maupun non formal. Semua hal ini dimaksudkan agar sector-sektor yang nilainya masih dibawah 100% ini bisa memiliki daya saing yang lebih kuat lagi di pasaran di masa mendatang.

Sabtu, 26 November 2011

Analisis Jurnal


Judul                          : Analisis Distribusi dalam Pembentukan Harga Komoditas Cabai dan Implikasinya Terhadap Inflasi
Nama Pengarang      : Nugroho Joko Prastowo, Tri Yanuarti, Yoni Depari
Tahun                         : 2008
Tema                          : Pembentukan Harga Komoditas Cabai



LATAR BELAKANG MASALAH
  • Fenomena
Komoditas cabai di Indonesia setiap tahunnya mengalami pergerakan harga naik dan turun yang begitu fluktuatif. Apalagi pada musim-musim tertentu seperti mendekati hari-hari besar keagamaan dan saat perubahan iklim pancaroba. Harganya bisa melambung sangat tinggi bahkan melebihi 100%. Seperti contohnya pada fenomena mendekati Hari Raya Idul Adha kemarin, dimana harga cabai mencapai Rp 40.000/kg setelah sebelumnya harga cabai hanya berkisar antara Rp 20.000/kg.
  • Riset terdahulu
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik berikut ini adalah tabel bagaimana rata‐rata harga cabai pada berbagai tingkatan rantai pemasaran selama 3 tahun terakhir, 2007-2009 (dalam Rp)


  •  Motivasi Penelitian
Adapun motivasi penelitian ini bertujuan untuk menelaah peran distribusi dalam pembentukan harga komoditas.


METODOLOGI
  • Data
Data yang digunakan merupakan data sekunder dimana data tersebut diperoleh dari hasil penelitian yang sudah ada dilengkapi dengan data yang diperoleh dari instansi pemerintahan seperti data BPS (Badan Pusat Statistik).
  • Variabel
Yang menjadi variable dalam penelitian ini adalah harga cabai merah di tingkat eceran, pasokan cabai, permintaan cabai, harga BBM yang mencakup biaya transportasi, dan variable gangguan distribusi yaitu factor cuaca dan bencana alam.
  • Model Penelitian
Guna mencapai tujuan penelitian, metode yang digunakan dalam penelitian adalah:
a.      Metode deskriptif untuk memberikan gambaran secara jelas mengenai karakteristik dari komoditas cabai tersebut, seperti pola produksi dan konsumsi, pola distribusi, tata niaga dan mekanisme pembentukan harganya.
b.      Metode kuantitatif dengan menggunakan persamaan ekonometrik untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan harga dan menganalisis dampak distribusi terhadap pembentukan harga komoditas cabai.
c.       Metode survei yang ditujukan untuk memperoleh informasi tambahan mengenai mekanisme distribusi dan pembentukan harga komoditas, dan sekaligus ditujukan untuk mengkonfirmasi kesimpulan hasil analisis kuantitatif yang menggunakan data sekunder.


HASIL DAN ANALISIS PENELITIAN

Persamaan pembentukan harga untuk komoditas cabe merah lebih sederhana karena nyaris tidak ada kebijakan pemerintah yang ditujukan untuk mempengaruhi harga cabe merah sehingga lebih mengandalkan variabel produksi dan distribusi. Persamaan pembentukan harga cabe merah di tingkat pengecer adalah sebagai berikut:

PCt = τ0 + τ1 PCt-1 + τ2 Q’Ct + τ3 POt + τ4 DDISt + εct ........................... (8)

di mana PC merupakan harga cabe merah di tingkat eceran, Q’C merupakan selisih (gap) antara pasokan dan permintaan cabe merah, PO adalah harga BBM sebagai proksi dari biaya tansportasi, dan DDIS merupakan variabel dummy gangguan distribusi yang disebabkan oleh faktor cuaca dan bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Estimasi dilakukan menggunakan data bulanan dengan periode tahun 2003-2006 sesuai dengan ketersediaan data.
Berdasarkan hasil estimasi dari persamaan tersebut menunjukkan bahwa performa komoditas cabai masih bisa dikatakan bagus. Walaupun pembentukan harga cabe masih bersifat adaptif, namun persistensi harga cabe merah cenderung rendah. Untuk itu harga cabe merah lebih bergejolak (volatile) karena lebih sering mengalami penurunan persistensi. Sementara itu, pengaruh distribusi dalam pembentukan harga cabe merah cukup signifikan misalnya gangguan iklim yang berdampak kerusakan lahan perkebunan cabai. Sehingga bisa menyebabkan penurunan produksi. Bisa juga disebabkan karena kerusakan jalan sehingga menghambat pendistribusian cabai.
Cabe merah yang bersifat perishable (mudah rusak/busuk) dan transaksinya yang bersifat lintas wilayah akan semakin peka terhadap variabel distribusi dan menjadi komoditas penyumbang inflasi jika terjadi shock distribusi. Karena salah satu penyumbang inflasi terbesar adalah dari volatile foods (komoditas pangan) yaitu sebesar 27,2%. Yang hal ini disebabkan oleh adanya sifat perishable tersebut.


KESIMPULAN

Secara umum, faktor distribusi yang berpengaruh terhadap pembentukan harga komoditas dapat meliputi: biaya transportasi, gangguan distribusi, rantai distribusi, dan marjin keuntungan di setiap rantai distribusi. Hasil estimasi pembentukan harga komoditas utama penyumbang inflasi kelompok volatile foods mengindikasikan bahwa semakin cepat rusak/busuk (perishable) suatu komoditas tingkat fluktuasi harganya semakin tinggi dan ini terjadi pada komoditas cabai yang memiliki sifat perishable yang cukup peka.

 Tugas ini dikerjakan bersama Eka Agustianingsih

Selasa, 08 November 2011

Komoditas Cabai di Indonesia

 

Cabai termasuk salah satu komoditas penting rakyat Indonesia. Biasanya paling banyak digunakan dalam bentuk segar maupun olahan untuk konsumsi rumah tangga,industri pengolahan makanan,dan industri makanan. Selain itu cabai merah dimanfaatkan untuk pembuatan obat-obatan dan kosmetik. Cabai merah mempunyai luas areal penanaman paling besar diantara komoditas sayur-sayuran,sehingga permintaan terhadap komoditas ini cenderung besar. Oleh sebab itulah, pergerakan harga cabai sangat disoroti , apalagi seperti saat ini menjelang perayaan hari raya Idul Adha yang biasanya kenaikan permintaannya bisa tiga sampai empat kali lebih besar dibanding hari biasa. 

Sabtu, 05 November 2011

Kebijakan Harga


Dalam mengontrol kegiatan perekonomian pemerintah memiliki kebijakan-kebijakan tertentu. Seperti dalam penetapan harga untuk suatu barang, pemerintah memiliki 2 macam penetapan harga suatu barang, yaitu price ceiling dan price floor. Penetapan price ceiling dan price floor ini akan menyebabkan surplus dan shortage.

Gambar dibawah ini adalah gambar untuk kurva surplus dan shortage. Yang selanjutnya akan dibahas pada penjelasan dibawahnya.


Pergeseran Kurva Penawaran


Kurva penawaran tidak selamanya tetap. Dapat terjadi pergeseran dua arah, yaitu pergeseran ke kanan (kenaikan penawaran) dan pergeseran ke kiri (penurunan penawaran).
Pergeseran tersebut terjadi disebabkan beberapa faktor yang ikut mempengaruhi, yaitu:

1. Harga sumberdaya yang relevan
            Harga dari bahan baku / sumberdaya sangatlah berpengaruh terhadap kurva penawaran. Apabila terjadi kenaikan harga pada bahan baku utama tentu saja produsen harus memproduksi lebih sedikit produk jika tidak mau menambah biaya. Sementara itu jika harga bahan baku turun, maka dengan biaya yang sama produsen dapat memproduksi lebih banyak produknya.

2. Penggunaan teknologi
             Penggunaan teknologi terutama di era globalisasi ini memang sudah bukan hal asing lagi. Penggunaan teknologi ini dapat menekan biaya-biaya seperti biaya tenaga kerja, karena step-stepnya bisa dikerjakan secara otomatis oleh mesin.
Sementara jika tanpa penggunaan teknologi atau semua dilakukan secara manual seperti cara tradisional memerlukan jumlah tenaga kerja yang lebih besar dan tenaga kerja itu membutuhkan biaya untuk digaji. Maka dengan pengeluaran biaya tetap produk yang dapat dihasilkan akan lebih sedikit.

3. Banyaknya penjual
            Banyaknya jumlah penjual di pasar dengan jenis barang yang sama juga dapat mempengaruhi kurva permintaan. Jika jumlah penjual yang menjual barang yang sama terhitung banyak, ini akan membuat penawaran akan barang tersebut meningkat. Karena kesuksesan seseorang dalam berjualan sesuatu dan memperoleh laba yang banyak dapat meningkatkan minat penjual lainnya untuk mengulangi kesuksesan tersebut, sehingga penawaran akan barang tersebut oleh si produsen tentu akan meningkat melihat kesempatan seperti ini.
Sebaliknya jika jumlah penjual jenis barang tersebut sedikit maka otomatis penawaran dari produsen akan lebih sedikit karena sedikitnya jumlah penjual yang mau menjual produknya tersebut.

4. Perkiraan harga di masa depan
Perkiraan harga di masa depan yang rendah membuat produsen akan lebih memprioritaskan untuk memaksimalkan penjualan dalam waktu dekat untuk memaksimalkan keuntungan.
Sementara jika harga di masa depan diramalkan lebih baik maka ada kemungkinan penawaran saat ini ditunda untuk memperoleh laba maksimum di masa depan dengan melakukan sedikit penundaan untuk menunggu harga yang bagus. Maka  kurva penawaran bergeser ke kiri.

5. Pajak dan subsidi
            Kenaikan beban pajak dapat menyebabkan pergeseran kurva penawaran ke sebelah kiri karena dengan beban pajak yang bertambah maka produsen harus menurunkan jumlah produksinya jika ingin memproduksi dengan biaya yang sama, hal ini menyebabkan menurunnya jumlah penawaran.
Sementara pemberian subsidi dari pemerintah kepada produsen menggeser kurva penawaran ke sebelah kanan. Karena dengan biaya sama yang dikeluarkan produsen lalu ditambah dengan subsidi dari pemerintah maka produsen dapat memproduksi barang lebih banyak.
           
6. Pembatasan pemerintah
            Pembatasan pemerintah ini menyangkut kebijakan yang dibuat pemerintah kepada produsen. Misalnya kebijakan pemerintah untuk meningkatkan jumlah produksi suatu barang, maka otomatis jumlah penawaran oleh produsen akan meningkat. Begitupun sebaliknya jika pemerintah menetapkan kebijakan untuk menurunkan jumlah produksi suatu jenis barang maka jumlah penawaran produsen akan barang tersebut akan menurun.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Sirkulasi Aliran Pendapatan


Sirkulasi aliran pendapatan adalah skema proses perilaku ekonomi yang dilakukan oleh 4 pihak utama yaitu Masyarakat, Produsen, Pemerintah, dan Bank.

Sebetulnya skema ini bisa cukup menerangkan tentang rumus pendapatan nasional  dan bagaimana semua itu menjadi berkaitan.

Globalisasi

Globalisasi berasal dari kata global, globe, yang berarti dunia, mendunia.
Globalisasi sendiri dalam ruang lingkup perekonomian bisa diartikan sebagai persaingan tidak terbatas batas negara. Jadi misalnya dalam proses persaingan penjualan atau tenaga kerja, di zaman globalisasi sekarang ini semua sudah tidak lagi ada batasan siapa warga negaranya atau apapun.
Seluruh penduduk dunia sudah secara bebas bersaing di pasar terbuka. Itu kenapa di zaman globalisasi seperti sekarang ini persaingan menjadi lebih ketat di dunia nyata.  Dan itu juga kenapa proses seleksi alam berjalan lebih kejam.
Di zaman globalisasi seperti sekarang ini kualitas dalam diri adalah yang harus sangat diperhatikan. Dalam sisi softskill ataupun hardskill. Semua harus dalam proporsi yang seimbang. Karena hidup di zaman globalisasi seperti sekarang ini sudah tidak mungkin lagi anda menjadi biasa-biasa saja lalu anda ingin sukses, yang biasa-biasa saja mungkin akan terseleksi oleh alam, apalagi yang dibawah biasa.

Dari terjadinya proses globalisasi ini tentu saja ada dampak positif dan negative yang ditimbulkan.

Jumat, 21 Oktober 2011

Kelangkaan dan Hal yang Diakomodir Dalam Ekonomi

Kelangkaan...
Kelangkaan itu bisa terjadi karena besarnya kebutuhan yang melebihi tersedianya sumber daya.

Kenapa ada barang yang langka dan tidak?
Bisa timbulnya kelangkaan pada suatu barang itu dikarenakan besarnya kebutuhan dan keinginan masyarakat untuk mendapatkan benda tersebut, sementara ketersediaan barang tersebut tidak mampu mengimbangi permintaan dari masyarakat itu. Entah dikarenakan memang sumberdaya yang terbatas, atau karena keterbatasan produksi dari barang tersebut. Sementara jika permintaan dan ketersediaan barang tersebut seimbang ataupun malah permintaannya yang lebih sedikit dari ketersediaan, maka tidak akan terjadi kelangkaan pada barang tersebut.

Ekonomi sendiri mengakomodir hal hal yang juga berhubungan dengan kelangkaan.

Apa yang diakomodir dalam ekonomi ?
Ekonomi itu mengakomodir dua hal, yaitu kebutuhan dan keinginan.
Kebutuhan itu sesuatu yang diinginkan oleh manusia yang memang penting dan dibutuhkan dalam kehidupan. Sementara keinginan itu sesuatu yang diinginkan oleh manusia tetapi tidak pasti dibutuhkan oleh manusia itu sendiri. Jadi lebih ke pemenuhan kepuasan bagi si manusia saja.
Kalau sebuah keinginan tidak dipenuhi sebetulnya tidak apa-apa, tapi lebih ke kepuasan atau kesejahteraan dari si manusianya saja yang berkurang. Sementara jika sebuah kebutuhan tidak dipenuhi maka yang terjadi si manusia tersebut akan menjadi kekurangan.
Dalam ruang lingkupnya keinginan memiliki ruang lingkup yang lebih luas. Karena setiap kebutuhan itu pasti keinginan, sementara tidak semua keinginan itu sebenarnya kita butuhkan.

Senin, 27 Juni 2011

Info Liburan Gratis

Buat yang suka jalan-jalan, travelling, dan pengen liburan gratis ada promo seru bannget nih!
cuma dengan ikutan quiz, ngejawab soal soal seputar pariwisata, bisa dapet hadiah jalan jalan gratis ke pulau komodo 3hari 2 malam!
seru banget kan, !
buat yang berminat bisa coba, klik aja yang dibawah ini :)
Quiz, Visit Indonesia

Minggu, 15 Mei 2011

Struktur Produksi


Struktur produksi adalah logika proses produksi, yang menyatakan hubungan antara beberapa  pekerjaan pembuatan komponen sampai menjadi produk akhir, yang biasanya ditunjukkan dengan skema. Struktur produksi nasional dapat dilihat menurut lapangan usaha dan hasil produksi kegiatan ekonomi nasional.