Kamis, 23 Februari 2012

Seminar EduShow (Educational Talkshow) with Ishadi Soetopo "Let Us Learn How The Industry of Broadcasting Gain Profit"

Hai guys.. Bagi kalian semua yang berjiwa muda dan ingin menjadi seorang yang sukses di dalam dunia penyiaran radio dan pertelevisian, atau buat kamu-kamu yang punya band, pasti pengen banget dong bandnya dikenal banyak orang?
lagu-lagu kamu diputer di TV – TV dan radio radio terkemuka?
band kamu bisa tampil di TV-TV Nasional dan radio-radio terkemuka?
Nah, kami dari BEM FE Universitas Gunadarma punya solusinya!

BEM FE Universitas Gunadarma proudly present,
EduShow (Educational Talkshow) with Ishadi Soetopo
"Let Us Learn How The Industry of Broadcasting Gain Profit"

Acara ini bisa membantu kalian semua untuk mengetahui bagaimana suatu dunia penyiaran mendapatkan keuntungan yang berkesinambungan. Selain menghadirkan pembicara-pembicara yang handal, kami juga mengundang seorang moderator yang ahli di dalam bidangnya.

Disini kalian juga bisa belajar bagaimana untuk dapat memulai terjun ke dunia penyiaran, baik itu televisi maupun radio. Kalian juga bisa langsung bertanya kepada ahlinya, orang-orang yang sudah sangat expert di bidang penyiaran, dengan jam terbang yang begitu tinggi dan jadeal yang begitu padat, dan prestasinya di bidang penyiaran ini sudah tidak usah diragukan lagi, karena pembicara kami adalah :


 

Ishadi Soetopo
1. Dr. Ishadi Soetopo Kartosapoetro M.Sc beliau adalah Komisaris Trans TV dan Trans7

2. Rusmin Kusen beliau adalah seorang pemilik stasiun radio terbanyak di benua Asia.

3. B. Soemarwoto, SE., MM. beliau adalah seorang Direktur Utama MGS TV dan Kepala Bidang Kerjasama Dalam dan Luar Negeri dari Asosiasi Televisi Lokal Indonesia.


Moderator yang akan memimpin jalannya talk show adalah: Ratna Dumila (News Anchor TvOne)\


Seperti yang di awal kami sampaikan bahwa acara ini berkonsep talk show sehingga sebuah interaksi antara pembicara, moderator, dan peserta sangatlah penting.

Selain itu di dalam acara ini ketiga pembicara tersebut juga akan bercerita tentang pengalaman mereka masing-masing bagaimana mereka semua bisa menjadi seorang yang berhasil seperti sekarang ini.

Peserta acara ini juga bisa bertanya mengenai apa saja yang ingin ditanyakan kepada setiap pembicara, misalnya apabila kalian ingin menanyakan sebuah pertanyaan: “bagaimana cara untuk membuat satu acara yang besar dan dapat berjalan dengan sukses?”.

Satu hal lagi yang tak kalah menarik, peserta juga bisa memilih kepada siapa mereka ingin mengajukan pertanyaannya. Menarik bukan? Acara ini akan diselenggarakan pada:

Hari/tanggal : Sabtu, 25 Februari 2012
Waktu : Pukul 07.30 – 13.00 WIB
Tempat : Pusdiklat Graha Insan Cita, Jalan Prof. Lafran Pane, Depok

Semenjak tanggal 2 Februari 2012 kami telah membuka stand tempat pendaftaran di : Kampus E Universitas Gunadarma, Kelapa dua, Depok (di antara Gedung 2 dan 3) Kampus J Universitas Gunadarma, Kalimalang, Bekasi (lobby Gedung 1, lantai 1)

HTM:
Mahasiswa/i  : Rp 50.000,-
*dengan menunjukan KTM

Publik : Rp 70.000,-

Apabila kalian memiliki pertanyaan untuk ditanyakan tentang acara ini kalian bisa menghubungi Aningtyas di nomor 0878-8948-1918. Peserta seminar akan mendapatkan starter pack + reload AXIS pada saat pendaftaran dan mendapatkan seminar kit, souvenir, 1 botol Pocari Sweat, snack, dan sertifikat di hari acara berlangsung.

Acara talk show ini jelas sangat bagus bagi semua orang karena di dalam acara ini kalian bisa mendapatkan banyak sekali ilmu yang bermanfaat untuk bisa diterapkan di dalam dunia pekerjaan. So, tunggu apalagi? Segera daftarkan diri kalian sekarang juga!!! Info acara ini juga dapat dilihat melalui: EduShow (Facebook) dan @edushowug (Twitter)
So let's Come Join Us..
Cepat yaa tempat terbataas ;) 

Sabtu, 18 Februari 2012

Berbagai Macam Elastisitas di Berbagai Aspek


ELASTISITAS HARGA BAHAN BAKAR DAN RELASINYA DENGAN KEPEMILIKAN KENDARAAN

Sebuah penelitian terdahulu tentang kenaikan harga bahan bakar dan bagaimana dampaknya terhadap masyarakat telah dilakukan di 32 negara yang diantaranya yaitu Canada, Asia, Australia, dan Amerika. Ditemukan bahwa jumlah penduduk di perkotaan dapat mempengaruhi permintaan relative untuk bahan bakar transportasi jalan, perkiraan elastisitasnya terhadap pola fasilitas umum sangat sensitive. Untuk bahan bakar konsumsi per kapita ter terhadap kepadatan perkotaan diperkirakan dalam rentang -0.33 sampai  -0.35. Sementara kepadatan penduduk kota terhadap permintaan bahan bakar itu inelastic, yang artinya tidak terjadi pengaruh yang besar, ini dikarenakan banyaknya fasilitas transportasi yang disediakan pemerintah dan jarak tempuh orang perkotaan yang reklatif singkat. Pemakaian transportasi umum ini malah menghemat biaya BBM yang harus dikeluarkan oleh individu, sehingga mereka bisa melakukan efisiensi.
Jadi, harga BBM itu bisa mempengaruhi permintaan bahan bakar sebagian besar melalui variasi dalam konsumsi bahan bakar per km dan jarak mengemudi bukan kepemilikan mobil. Hal ini dapat mencerminkan harga bahan bakar tidak mempengaruhi permintaan mobil.
Untuk efek jangka panjangnya yang akan terjadi adalah kemungkinan pendapatan substansian dalam  biaya transportasi terutama dalam harga BBM membuat orang bereaksi mengatur jarak tempuh dan mengubah jenis mobil dan memilih mesin yang lebih kecil atau lebih hemat bahan bakar seperti mobil hibrida/ diesel.
Untuk jangka panjang, elastisitas harga bensin berkisar antara -0,14 sampai -0,54 dan diesel 0,32. diesel disini merupakan bahan pengganti yang disebabkan oleh responden yang mengganti mobil BBMnya jadi mobil diesel.
Harga BBM naik tidak berarti menaikan atau menurunkan permintaan dari BBM tersebut, masyarakat lebih melihat efisiensi dari penggunaan bahan bakar yaitu dengan menggantinya dengan diesel.

Sumber Jurnal :
·         Estimating the Effect of Urban Density on Fuel Demand
·         Long term fuel price elasticity:  Effects on mobility tool ownership and  residential location choice 



DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI HARGA BAHAN BAKAR MINYAK TERHADAP KINERJA INDUSTRI HASIL HUTAN KAYU



Dalam kondisi Permintaan konstan, pengurangan subsidi atau kenaikan harga BBM di industri kayu olahan hilir menggeser kurva penawaran kayu olahan hilir ke kiri dari Ss0 ke Ss1. Maka harga keseimbangan kayu olahan hilir meningkat dari Ps0 ke Ps1 dan keseimbangan penawaran dan permintaan turun dari qs0 ke qs1.
Dalam kondisi penawaran konstan, penurunan permintaannya menyebabkan harga kayu olahan hulu menurun dari Pp0 ke Pp1 dan keseimbangan permintaan dan penawarannya menurun dari qp0 ke qp1.
Jadi, model industri hasil hutan kayu yang dibangun telah menangkap realitas yang menjadi perhatian dalam kinerja industri hasil hutan kayu dan dapat menjelaskan hubungan-hubungan ekonomi yang terbentuk sesuai dengan prediksi teori. Hasil ini  juga menunjukkan bahwa model yang dibangun dapat digunakan sebagai alat simulasi dan peramalan. Dengan model yang diperoleh, dampak kebijakan pengurangan subsidi harga BBM terhadap kinerja industri hasil hutan kayu dan kesejahteraan sosial dianalisis.
Secara umum, kenaikan harga BBM dengan adanya subsidi dari pemerintah cenderung inelastis, hal ini dikarenakan terbatasnya barang substitusi dan komplementer dari BBM tersebut. Selain itu, total revenue sangat dipengaruhi oleh subsidi dari pemerintah kepada perusahaan industri kayu tersebut.

Sumber Jurnal : Impact of Oil Price Subsidy Reduction Policy on Performance of Wood Products Industry



DAMPAK IKLAN SEBAGAI ALAT PEMASARAN PADA HARGA DAN SENSITIFITAS HARGA DI PASAR BARANG

Sensitivitas harga konsumen, yang berarti kepekaan relatif dari harga dalam mempengaruhi keputusan pembelian dan kecenderungan untuk melakukan pencarian harga untuk menemukan harga yang lebih baik, ternyata dapat banyak dipengaruhi oleh sebuah alat pemasaran yaitu iklan. Pada umumnya sensitivitas harga sebagian besar dirasakan pada kalangan masyarakat menengah kebawah, konsumen menengah kebawah sangat peka akan harga dan alternatif produk. Namun lain halnya bagi masyarakat menengah keatas yang mempunyai persepsi sendiri tentang harga, dimana mereka menilai harga yang mahal mengidentifikasikan kualitas dari produk tersebut.
Pada indikator ini sensitivitas harga ditentukan oleh seberapa banyak dan dalamnya informasi yang didapat konsumen mengenai harga dan kualitas yang ditawarkan berbagai produk sejenis yang akan dikonsumsi oleh konsumen. Respon konsumen terhadap promosi mengidentikasikan bahwa keputusan konsumen terhadap merk dan banyaknya jumalah produk terhadap potongan harga yg ada pada produk tersebut. Lalu dari informasi tersebut akan menjadi bahan pertimbangan bagi produsen dalam menentukan strategi promosi. Salah satu strategi yang diperlukan adalah positoning yang tepat guna karena akan mengarahkan fungsi suatu iklan, sebab hal tersebut memiliki dampak terhadap sensitivitas harga konsumen.
Ketika tingkat kepercayaan konsumen meningkat maka terciptalah sebuah brand yang terkenal, sehingga masyarakat tidak lagi memperhitungkan tingkat harga pada produk tersebut. Hal inilah yang kemudian dimaksud dengan iklan yang dapat mengurangi sensitivitas harga konsumen. Iklan juga mempengaruhi elastisitas konsumen dalam memberi barang, berikut kurvanya:




Berdasarkan grafik diatas angka menunjukan rating sebuah iklan. Rating iklan bisa muncul akibat dari penilaian dari pihak konsumen yang menilai apakah iklan tersebut memiliki citra yang kuat, jadi semakin tinggi nilai rating maka kepercayaan semakin sangat tinggi, hal ini akan mempengaruhi elastisitas konsumen dalam membeli barang karena semakin konsumen percaya akan suatu produk maka daya belinya akan semakin tinggi.
Titik kunci adalah bahwa iklan dapat mempengaruhi elastisitas harga permintaan untuk
merek dalam dua cara berbeda secara fundamental. Pertama, iklan dapat mempengaruhi parameter dari fungsi permintaan konsumen individu sedemikian rupa untuk membuat konsumen individu lebih atau kurang sensitive terhadap harga. Kedua, iklan dapat mempengaruhi komposisi dari himpunan konsumen yang membeli merek. Jika iklanmenarik Harga konsumen lebih sensitif ke set yang bersedia membayar untuk tertentu merek, ini akan meningkatkan elastisitas harga dari permintaan yang dihadapi merek.

Sumber Jurnal :
·         The Impact of Advertising on Consumer Sensitive Price in Experience Goods Market
·         Impact Advertising on Price



ELASTISITAS PERMINTAAN AIR DENGAN PENGGUNAAN TARIF

Di tahun 2011 ada permasalahan mengenai elastisitas permintaan terhadap air di USA dan Eropa. Karena di sana mulai diterapkan penggunaan tarif untuk pemakaian air di setiap perumahan. Ternyata ada kesenjangan yang cukup besar antara elastisitas harga dan elastisitas penghasilan karena bila digambarkan elastisitasnya mendekati 0. Nilai elastisitas yang mendekati 0 ini disebabkan oleh adanya pemakaian air yang tidak terkontrol di masyarakat sehingga ada ketidaksesuaian antara jumlah air yang dipasok dengan jumlah air yang dipakai. Akibatnya di USA diadakan penelitian untuk mengurangi kesenjangan di elastisitas tersebut. Metode yang digunakan antara lain metode increasing block rate tarif yang hasilnya adalah kebutuhan air menjadi lebih elastis dan elastisitas pendapatan menurun dan metode decreasing block rate tarif yang hasilnya berbanding terbalik dengan metode increasing block rate tarif. Namun dalam kenyataannya dari kedua metode ini kita tidak bisa menentukan mana yang akan menghasilkan elastisitas tertinggi karena hal ini bergantung pada kompleksitas masalah yang ada seperti kondisi geografis lingkungan, suhu, cuaca, dsb.

Sumber Jurnal : Price and Income Elasticities of Residental Water Demand



DAMPAK GLOBALISASI DAN LIBERALISASI PERDAGANGAN TERHADAP ELASTISITAS PERMINTAAN TENAGA KERJA DAN SEKTOR PARIWISATA

 Globalisasi tak selalu berdampak baik. Globalisasi juga dianggap memiliki efek buruk terhadap neraca perdagangan Indonesia. Karena dengan adanya perdagangan bebas / liberalisasi perdagangan maka, pemerintah membuat kebijakan dengan mengurangi tarif impor dan pengenaan pajak pada komoditas domestik. Dan ini berdampak pada sisi produksi, dengan penurunan harga domestik maka membuat para produsen lebih kompetitif dalam bersaing dengan pesaing yang ada di pasar. Sebenarnya ini merangsang produksi dalam negeri dan meningkatkan lapangan pekerjaan serta meningkatkan PDB. Dengan meningkatnya produksi dalam negeri maka menaikan pendapatan rumah tangga dan menciptakan lebih banyak permintaan dalam pasar domestic. Karena permintaan dalam negeri meningkat maka meningkatkan impor, tetapi ekspor menurun. Itu dikarenakan neraca pasar domestik lebih menguntungkan bagi produsen. Oleh karena itu neraca perdagangan memburuk.
Semakin berkurangnya pajak yang diterima oleh pemerintah juga semakin memperburuk kekurangannya. Karena pemerintah jadi kurang mampu membiayai aggaran pengeluarannya, tapi memiliki sisi positif pada kesejahteraan dalam negeri dan konsumsi rumah tangga meningkat. Untuk menyeimbangkan neraca perdagangan yang buruk itu, sektor pariwisata bisa menjadi solusinya. Kenaikan permintaan pariwisata asing akan membuat produksi yang lebih dan penyerapan tenaga kerja domestic meningkat. Dengan adanya hubungan antara harga yang menurun, permintaan, dan income yang berjalan semakin tinggi didalam kasus ini maka dapat disimpulkan bahwa ini bersifat elastis. Untuk mencegah terjadinya inelastis maka pemerintah seharusnya membuat kebijakan untuk menaikan harga saja dan menurunkan tarif pajak.
Sementara itu liberalisasi perdagangan meningkatkan elastisitas permintaan tenaga kerja. Liberalisasi perdagangan memiliki dampak positif pada elastisitas permintaan tenaga kerja. Ada alasan untuk percaya bahwa liberalisasi perdagangan akan menyebabkan peningkatan (nilai absolut) yaitu elastisitas permintaan tenaga kerja terhadap tingkat upah. Peningkatan didalilkan dalam elastisitas permintaan tenaga kerja yang timbul dari liberalisasi perdagangan memiliki implikasi penting bagi hasil pasar tenaga kerja, terutama di negara berkembang. Peningkatan elastisitas permintaan tenaga kerja akan menyebabkan guncangan pekerjaan dan upah yang lebih besar berasal dari guncangan dalam produktivitas atau permintaan output. Juga, ketidakstabilan yang lebih besar dalam pekerjaan dan upah akan menyebabkan penurunan daya tawar buruh serta modal dalam pembagian keuntungan .  Tetapi liberalisasi perdagangan dapat menyebabkan penurunan pangsa biaya tenaga kerja karena barang produksi yang setengah jadi atau belum dirakit produk dapat diimpor oleh perusahaan industri untuk digunakan dalam proses produksi bukan manufaktur dari tahap bahan baku, dan ini dapat menetralisir efek peningkatan elastisitas substitusi antara input dan elastisitas harga meningkatnya permintaan untuk produk-produk dari perusahaan industri dalam negeri.

Sumber Jurnal :
·         Economic Impact of Tourism and Globalization in Indonesia
·         Trade Liberalization and Labor Demand Elasticity in Indian Manufacturing




DINAMIKA ELASTISITAS HARGA PADA SIKLUS HIDUP SUATU PRODUK

Suatu produk pada umumnya mengalami tingkat inelastisitas tertinggi pada fase awal siklus hidup produk. Sedangkan produk tersebut mengalami elastisitas pada saat pembelian kembali pada fase puncak (maturity) di mana tingkat penjualan mencapai tingkat tertinggi. Setelah tahap maturity produk akan memasuki fase decline (penurunan). Pada fase ini, produsen perlu memperbaharui kembali produknya agar konsumen tidak mengalami kejenuhan. Sebab persaingan semakin ketat dan mencapai tingkat elastisitas tertinggi.
Sumber Jurnal :
  • Price Elasticity Dynamics Over The Product Life Cycle: A Study Of Consumer Durables



PENTINGNYA RELATIF HARGA DAN KUALITAS PILIHAN PENYEDIA LAYANAN KONSUMEN SEKTOR KESEHATAN

 Perawatan kesehatan terdiri dari dua sector, yaitu sector publik dan sector swasta. Ada dua kendala yang ditemui yaitu permintaan pasar untuk layanan dan penyediaan input. Jika penyedia melakukan penurunan harga maka akan ada pengorbanan kualitas. Sebaliknya, jika penyedia meningkatkan kualitas maka akan ada pengorbanan harga yang lebih tinggi untuk meningkatkan layanan atau penambahan teknologi. Jadi dalam kasus penyediaan pelayanan kesehatan ini ada dua variable penentu elastisitas, yaitu harga dan kualitas. Ada hipotesa yang menyatakan bahwa proporsi relative sector swasta memegang angka lebih tinggi dan rela membayar lebih tinggi dibandingkan memilih sector publik yang kualitasnya terhitung rendah. Setelah itu pada penelitiannya ditemukan bahwa pasien lebih responsive pada perubahan kualitas daripada perubahan harga. Ini disebabkan karena yang dibahas disini adalah sector kesehatan yang mempertaruhkan nyawa, maka pengorbanan berupa materi pun rela dilakukan.
Selain itu pada penelitian terdalulu juga ditemukan bahwa elastisitas pendapatan pengeluaran perawatan kesehatan > 1 , dimana itu berarti bersifat elastis. Ini berarti seiring dengan bertambahnya pendapatan, maka porsi dari pendapatan juga akan lebih besar untuk pergi ke pelayanan kesehatan.
Tetapi hal ini tidak berlaku rata pada seluruh kalangan masyarakat, walaupun rata-rata masyarakat memang lebih responsive terhadap peningkatan kualitas, ini dikarenakan ada dua golongan income masyarakat, seperti dijelaskan dibawah ini.


Indikasi dari kualitas ini terbagi menjadi dua, yaitu:
  • Indikasi kualitas : kualitas dokter dan obat.
  • Indikasi intrapersonal : kualitas pelayanan, teknologi, kenyamanan, dll.
Jika sector publik ingin dapat bersaing dengan sector swasta maka mereka harus bisa manjamin kualitas layanan dengan baik, atai jika tidak sasaran mereka untuk pangsa pasar harus lebih dispesifikasi lagi dengan menyasar masyarakat miskin yang memang belum mampu untuk melakukan pelayanan kesehatan dengan kualitas tinggi yang meminta biaya tinggi pada sector swasta.

Sumber Jurnal :
·         The Relative Importance of Price and Quality in Consumer Choice of Provider:  The Case of Egypt



ELASTISITAS HARGA TERHADAP PERMINTAAN SUMBERDAYA ENERGI

Riset yang dilakukan terhadap beberapa sumber energi diantaranya, listrik rumahan, gas alam, dan listrik industri guna mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi. Jika harga listrik naik maka ada tiga alternatif solusi yang dapat dilakukan, yaitu mengganti secara total, mencari substitusinya, dan  meminimalisir penggunaan listrik.
Kenaikan harga tidak signifikan mempengaruhi penurunan demand. Kalaupun ada kenaikan harga, konsumen tidak dapat mengurangi pemakaian listrik secara drastis hanya dapat berhemat atau menambahkan alat yang bisa mengefisiensi penggunaan listrik, seperti termostast dan dalam jangka panjang mereka akan mengkonversi listrik dengan sumber energi lainnya. Kenaikan demand dapat dipengaruhi oleh kenaikan income, income meningkat konsumen dapat saja membeli peralatan elektronik baru sehingga meningkatkan penggunaan listriknya(demand). Elastisitas dipengaruhi dengan adanya barang substitusi dan barang komplementer. Untuk kasus ini jika harga listrik naik :
1.       Dalam jangka pendek elastisitasnya bersifat inelastis karena untuk sementara waktu konsumen tidak memiliki pilihan hanya dapat mencoba menghemat atau mengurangi penggunaan listrik dan belum banyak barang substitusinya sehingga konsumen tidak memiliki pilihan lain selain tetap menggunakannya.
2.       Dalam jangka panjang, elastisitasnya bersifat elastis karena mungkin saja telah ditemukan inovasi – inovasi baru yang dapat menjadi subsitusi listrik.

Sumber Jurnal :  Regional Differences in the Price-Elasticity of Demand for Energy



ELASTISITAS PERMINTAAN ASURANSI JIWA

Saat terjadinya krisis ekonomi, permintaan akan asuransi di Asia bersifat elastis. Hal ini disebabkan karena dengan adanya krisis, maka perekonomian terganggu dan mengurangi pendapatan masyarakat di Asia. Rendahnya pendapatan membuat standar hidup masyarakat asia pada kala itu rrendah, dengan pendapatan yang rendah mereka hanya mengutamakan untuk konsumsi.Maka perubahan harga asuransi akan sangat mempengaruhi jumlah permintaan akan asuransi.
Kemudian, dengan adanya perbaikan ekonomi setelah adanya  krisis membuat pendapatan masyarakat asia terus meningkat dan memiliki pendapatan yang cukup tinggi sehingga membuat standar hidup masyarakat semakin tinggi dan makin sadar akan pentingnya asuransi. Dengan demikian, permintaan terhadap asuransi pasca krisis ekonomi hinggga kini bersifat inelastic, atau perubahan harga asuransi tidak akan terlalu mempengaruhi jumlah permintaannya

Sumber Jurnal :  Life Insurance Demand Determinants



ELASTISITAS PERMINTAAN ROKOK

Sebelumnya para peneliti menganggap rokok itu bersifat inelastis sehingga menaikkan pajak dan dapat menghasilkan banyak pendapatan di Amerika Serikat.  Di sisi lain, rokok adalah salah satu penyebab utama masalah kesehatan.
Dengan adanya internet, konsumen dapat membeli rokok dari negara lain atau secara online sehingga konsumen tidak perlu membayar pajak kepada negaranya. Tingkat elastistasnya juga meningkat dari -1,28 menjadi -2,09 walaupun pajak sudah di naikkan 33%. Pajak yang lebih tinggi menyebabkan penyelundupan lebih besar dan jumlah penyelundupan tambahan telah tumbuh secara signifikan dengan munculnya Internet. Karena setelah di teliti jumlah penyelundupan yang timbul dari perubahan tarif pajak negara hampir dua kali lipat karena munculnya internet.  
 Maka dapat disimpukan bahwa pajak rokok tdak sensitif terhadap permintaan rokok di Amerika Serikat. Dengan adanya internet juga membuat pendapatan negara menjadi kecil dan tidak mengurangi tingkat konsumen menjaga kesehatannya.

Sumber Jurnal :
  • PLAYING WITH FIRE :  CIGARETTES, TAXES AND COMPETITION FROM THE INTERNET



ELASTISITAS PERMINTAAN PADA MAKANAN

Fenomena yang terjadi di Amerika adalah elastisitas permintaan pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat. Berdasarkan studi,31% yang memberikan perkiraan elastisitas harga daging sapi, 29% untuk daging babi, 14% untuk unggas, 10% untuk ikan, 15% untuk susu, 12% untuk keju, untuk sereal 12%, dan untuk buah dan sayuran 11%. Dari sini terlihat bahwa konsumsi pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat.
Dalam menyelesaikan hal ini, peneliti berusaha menghubungkan pemberlakuan pajak dan subsidi untuk menganalisis dampaknya terhadap harga bahan makanan. Dengan menetapkan sejumlah pajak kepada bahan makanan yang kurang sehat, maka diharapkan permintaan akan bahan makanan yang kurang sehat menurun seiring dengan kenaikan harga karena pajak. Sebaliknya subsidi diberikan kepada bahan makanan sehat dengan tujuan untuk menurunkan harga sehingga permintaan akan bahan makanan sehat dapat meningkat, sehingga diharapkan dapat mengubah gaya hidup masyarakat Amerika Serikat menjadi lebih baik.
Dengan pemberlakuan subsidi terhadap harga buah buahan dan sayur mayur menyebabkan penurunan harga sebesar 10%, dan berhasil meningkatkan permintaan akan buah dan sayur sebesar 7,0% untuk buah dan 5,8% untuk sayur, besarnya penurunan harga rupanya tidak meningkatkan permintaan secara signifikan sehingga harga buah dan sayur dikatakan inelastis.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah, bahwa walaupun subsidi telah diberikan, pada kenyataannya tidak dapat meningkatkan peningkatan permintaan secara signifikan, dari kasus tersebut dapat diasumsikan bahwa, harga bukanlah satu satunya faktor yang dapat menyebabkan buruknya gaya hidup sebagian masyarakat di Amerika serikat yang dinilai dari tingginya konsumsi bahan makanan tidak sehat seperti fast food, namun ada hal lain yang mempengaruhi, salah satunya ialah gaya hidup. Orang orang di Negara maju cenderung memilih bahan makanan cepat saji dengan alasan efisiensi, sehingga meskipun harga dirubah, tetap saja tidak akan mempengaruhi permintaan akan barang barang tersebut, sehingga sayuran dan buah buahan yang tergolong bahan makanan sehat bersifat inelastic. 

Sumber Jurnal :  
  • THE IMPACT OF FOOD PRICES ON CONSUMPTION: A SYSTEMATIC REVIEW OF REASERCH ON THE PRICE ELASTICITY OF DEMAND FOR FOOD


HARGA DAN ELASTISITAS PENDAPATAN PADA EKSPOR KELAPA SAWIT

Indonesia adalah produsen dan eksportir terbesar minyak sawit di dunia karena berhasil menguasai 46% pangsa pasar minyak sawit dunia. Sebagian besar dari produksinya diekspor. Sehingga, memperkirakan elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari permintaan untuk ekspor minyak sawit Indonesia sangat penting. Hal itu terlihat jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Malaysia, Indonesia mengekspor minyak sawit lebih banyak di banding dengan negara Malaysia dikarenakan factor lahan di Indonesia yang lebih luas dan memungkinkan untuk di tanami kelapa sawit lebih banyak.
Melalui penelitian ini, elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari permintaan ekspor minyak sawit Indonesia adalah inelastic baik untuk jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek untuk ekspor sebesar 0,54 dan untuk income sebesar 0,61. Serta jangka panjang untuk ekspor sebesar 0,41 dan untuk income sebesar 0,49. Temuan ini sesuai dengan teori pada pangsa pasar, alokasi anggaran, dan penggunaan dari minyak sawit sebagai bahan baku untuk barang-barang seperti kosmetik, minyak goreng, margarine, dan ketersediaan dari barang substitusi untuk ekspor minyak sawit Indonesia. Temuan ini penting untuk:
(1)  strategi pemasaran seperti diferensiasi produk (produk dengan nilai tambah) sehingga menciptakan layanan khusus untuk konsumen yang loyal dan meningkatkan standar kualitas
(2)   kebijakan pemerintah (kebijakan perdagangan dan peraturan domestic) harus diterapkan    oleh pemerintah Indonesia untuk mendukung ekspansi minyak sawit di Indonesia

Pajak ekspor adalah salah satu dari kebijakan yang diterapkan oleh Indonesia untuk minyak sawit agar mengendalikan harga minyak goreng local. Untuk kebijakan domestic dapat diterapkan dalam berbagai bentuk seperti subsidi produksi, program insentif pada penelitian diferensiasi produk (produk bernilai tambah), dan meningkatkan standar kualitas untuk ekspor minyak sawit Indonesia. Di masa yang akan datang, terdapat kebutuhan untuk menganalisis elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari produk-produk yang menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku, terfokus pada sektor-sektor yang berlainan (perbedaan antara CPO dan minyak sawit murni) pada kasus-kasus negara pengimpor yang lebih spesifik dan menganalisa dalam penawaran ekspor dan model-model yang simultan.
Inelastis pada minyak sawit terjadi karena:
1.       Efek barang substitusi terhadap perubahan harga tidak terlalu besar
2.       Pilihan produk-produk lainnya sebagai barang pengganti jumlahnya tidak banyak

Kamis, 09 Februari 2012

Akuntansi Kini Tak Selalu Statis

Akuntansi adalah seni mengukur, berkomunikasi dan menginterpretasikan aktivitas keuangan. Yang dilakukan dengan cara pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian mengenai informasi yang akan membantu manajer, investor, otoritas pajak, dan pembuat keputusan lain untuk membuat alokasi sumber daya keputusan di dalam perusahaan, organisasi, dan lembaga pemerintah. Tujuan akuntansi adalah untuk menyiapkan sebuah laporan keuangan yang akurat agar dapat dimanfaatkan oleh para manajer, pengambil kebijakan, dan pihak lainnya yang berkepentingan. Akuntansi sendiri memiliki beberapa bidang yaitu akuntansi biaya, akuntansi dana, akuntansi forensik, akuntansi keuangan, akuntansi manajemen, akuntansi perpajakan, akuntansi pemerintahan, akuntansi pemeriksaan, dan sistem akuntansi. Saya akan mengupas lebih dalam seputar akuntansi ini ...

Sabtu, 04 Februari 2012

Solutions To Solve Job Vacancy’s Problem


As we know that Indonesia’s job vacancy has so many problem, because there’s still soo many unemployment. From all the problem about this job vacancy, i considered to solve the problem with solutions like :
  • Increasing the human resources quality
Human resources is a major variable of this condition, so the quality of this variable is fully important. We have to considering not only about the quantity but also the quality. Because having a lot job seekers isn’t always bad. It can be good if those people have a good quality tocompete in the real world.  Both of formal and non formal side of education must be considered to be improved. Because not only education that counted in the real world is, but also things like attitude and work ethic are highly needed and became one of crucial things which determined someone’s success.

Jumat, 03 Februari 2012

What's The Best Technology For Our System-Fixer Firm ?

Jika tercetus pertanyaan seperti ini,
Apa teknologi yang terbaik untuk memperbaiki sistem perusahaan kami?
Ini adalah hal yang sangat tergantung kepada seberapa besar harapan dari perusahaan tersebut untuk memproduksi dan memperoleh keuntungan. Tergantung juga kepada jenis perusahaannya.
Ada banyak jenis teknologi yang bisa diaplikasikan untuk memperbaiki sistem dari perusahaan agar dapat melakukan efisiensi, seperti penggantian karyawan manual menjadi tenaga mesin untuk mengasilkan sesuatu atau penggunaan teknologi dalam penanganan data data yang dimiliki perusahaan tersebut, seperti penggunaan software-software akuntansi untuk melakukan pencatatan dan pembukuan perusahaan. 
Untuk sebuah perusahaan padat karya, misalnya pada perusahaan garmen, penggunaan teknologi ini bisa dilakukan di berbagai sisi dan memberikan efisiensi.
Contohnya penggantian penggunaan teknologi pada tenaga penjahit, yang tadinya menggunakan tenaga manual padat karya yang tiap pieces bajunya dikerjakan secara manual oleh pegawai satu persatu jadi diganti menggunakan mesin berteknologi tinggi yang bisa membuat baju dengan efisiensi kain dan waktu. Seperti data pada table yang tertera dibawah ini :


Jumlah Kain
Waktu
Jumlah baju
Padat karya
100 m2
3 hari
10 pieces
Padat Teknologi
100 m2
1 hari
20 pieces
                          

SOEHARTO : “Kehidupan dan Warisan Peninggalan Presiden Indonesia Kedua”



Buku biografi yang menceritakan tentang kehidupan presiden kedua Republik Indonesia ini ditulis oleh Retnowati Abdulgani – KNAPP, anak dari Dr. H. Roeslan Abdulgani yang bersahabat dengan alm. Soeharto. Hubungan ini membuat Retno berkesempatan untuk menulis buku ini.
                Soeharto adalah seorang anak tunggal dari pasangan Kertosudiro (ayah) dan Sukirah (ibu). Soeharto lahir di Kemusuk, Yogyakarta pada 8 Juni 1921 dan diberi nama “Soeharto” oleh bapaknya yang berarti lebih baik kekayaan. Dengan nama ini diharapkan Soeharto dapat menjadi orang yang kaya dan berkedudukan tinggi. Ayah Soeharto adalah seorang petugas irigasi desa dan waktunya banyak dihabiskan dengan berjudi dan merokok. Hobinya ini tentu butuh biaya besar, sampai-sampai Sukirah harus menjual perhiasannya dengan terpaksa. Lama kelamaan Sukirah frustasi karena tidak tahan dengan kelakuan suaminya, lalu ia minta cerai. Karena perkawinan kedua orangtuanya yang tidak langgeng ini, maka bayi Soeharto diserahkan kepada Mbah Kromodiryo (bidan sekaligus adik perempuan nenek Soeharto dari pihak ayah) saat berusia 40 hari untuk diurus oleh neneknya itu, sampai berumur sekitar 4 tahun. Setelah itu Soeharto diambil oleh ibunya lalu tinggal bersama ibunya yang telah menikah lagi dengan Atmopawiro  dan memiliki tujuh orang anak. Atmopawiro sangat menyayangi Soeharto meskipun Sopeharto hanya anak tirinya. Saat berumur delapan tahun, Soeharto dibawa oleh ayahnya untuk tinggal di rumah adik perempuan ayahnya. Ibu Prawirowihardjo, adalah nama dari adik perempuan ayahnya itu. Ibu Prawirowihardjo ini tinggal di Wuryantoro, tempat yang sudah lebih makmur dibandingkan Kemusuk. Prawirowihardjo adalah seorang mantri tani, disinilah Soeharto memahami budaya pertanian dan belajar banyak dari kehidupan bertani beserta para petaninya. Pelajaran yang ia dapatkan bersama keluarga Prawirowihardjo ini turut membentuk prinsipnya dalam cara ia memimpin dan berkuasa di masa mendatang saat ia menjadi pemimpin dan seorang presiden.

Kamis, 26 Januari 2012

Relasi Antara Biaya Dengan Konsumsi dan Produksi

Salah satu cakupan teori dalam ekonomi mikro adalah cost atau biaya. Biaya ini memiliki berbagai macam bentuk dan relasi dengan dua kegiatan terpenting dalam perekonomian yaitu, produksi dan konsumsi. Karena tanpa kedua kegiatan ini maka kegiatan perekonomian akan terhenti.
Definisi dari biaya sendiri adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan telah terjadi untuk tujuan tertentu (Mulyadi; 1993).

Biaya ini memiliki empat unsur pokok dalam definisinya, yaitu :

1.Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi.
2.Diukur dalam satuan uang
3.Yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi
4.Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu.

Analisis Jurnal


Judul
Keunggulan Kompetitif Sektor Industri Manufaktur di Jawa Tengah Sebelum dan Selama Krisis

Nama Pengarang
Hastarini Dwi Atmanti

Tahun
2004

Tema
Keunggulan Kompetitif Sektor Industri Manufaktur



Latar Belakang Masalah

Fenomena
Industrialisasi mulai berkembang sejak tahun 1966 dan pada dasawarsa 1980- an Indonesia mulai muncul sebagai kekuatan industri yang penting diantara negara sedang berkembang. Sektor industri diharapkan mempunyai peranan penting sebagai motor penggerak bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, beberapa kebijakan deregulasi telah di luncurkan oleh pemerintah sejak tahun 1983 untuk menjawab tantangan semakin terbukanya perekonomian dan terbatasnya sumber devisa untuk membiayai pertumbuhan ekonomi tersebut Mengacu pada arah pembangunan nasional, pembangunan di Jawa Tengah di arahkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, yaitu dengan menjadikan pembangunan sektor industri manufaktur sebagai prioritas pembangunan ekonomi dan tetap memperhatikan pembangunan di sektor yang lainnya. Industri manufaktur di Jawa Tengah, selain ditopang oleh industri besar dan sedang, industri kecil dan kerajinan rumah tangga juga oleh industri pengilangan minyak di Cilacap dan Cepu. Secara umum, sumbangan industri manufaktur terhadap PDRB kurun waktu 1996-2000 mengalami tluktuasi. Pertumbuhan industri manufaktur berdasarkan harga konstan dalam periode 1996-2000 cenderung mengalami penurunan.

Riset terdahulu
Berdasarkan data BPS tahun 2000 penurunan sumbangan industri manufaktur terhadap PRDB mengalami penurunan sebesar 14,61% akibat minusnya pertumbuhan sector industry pada tahun 1998 yang dikarenakan krisis moneter.

Motivasi penelitian
Penelitian ini terutama ditujukan untuk menganalisis efisiensi industri manufaktur di Jawa Tengah.


Metodologi Penelitian

Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari Jawa Tengah dalam Angka, Statistik Industri Besar dan Sedang Jawa Tengah, Statistik Industri Besar dan Sedang Indonesia, Statistik Indonesia, Indikator Industri Besar dan Sedang Indonesia, Pedoman Lapangan Pemutakhiran Direktori dan Pencacahan Survei Tahunan Perusahaan Industri Besar dan Sedang yang diterbitkan oleh Biro Pusat Statistik Jawa Tengah maupun Nasional tahun 1995 - 2000. Adapun kelompok industri yang dipakai adalah Klasifikasi Lapangan Usaha Industri (KLUI) dua digit.

Model  penelitian
DEA (Data Envelopment Analysis) yang dikembangkan pertama kali oleh Farrel (1957) dalam Sengupta (1999), kemudian dipopulerkan oleh Charnes, Cooper dan Rhodes (1978) dalam Julnes (2000), serta Banker, Charnes dan Cooper (1984) dalam dalam Dinc dan Haynes (1999). Analisis DEA digunakan untuk mengukur efisiensi sektor industri manufaktur .
Analisis yang kedua adalah analisis  shift-share yang dikembangkan pertama kali oleh Daniel B. Creamer (1943) dalam Prasetyo Soepono (1993) dan dipakai sebagai alat analitik pada permulaan tahun 1960-an oleh Ashby (1964) dalam Prasetyo Soepono (1993). Dan analisis shift-share ini untuk mengetahui keunggulan kompetitif dari sub sektor industri manufaktur.



Hasil dan Analisis Penelitian

Tingkat efisiensi teknik dengan asumsi CRS menunjukkan nilai 100 %. Artinya bahwa rata-rata sub sektor industri manufaktur besar-sedang di Jawa Tengah sudah mampu memaksimalkan pemanfaatan inputnya. Hanya ada dua sub sektor industri manufaktur yang tidak efisien. Yaitu KLUI 33 dan KLUI 35. Tingkat efisiensi teknik pada sub sector industri manufaktur di Jawa Tengah yang telah mencapai nilai 100 % untuk tetap dipertahankan di masa yang akan datang. Karena dengan kinerja yang efisien akan menurunkan biaya operasional dan peningkatan kualitas kerja, sehingga akan mampu mendorong pembangunan di sektor yang lain di Jawa Tengah. Kebijakan-kebijakan untuk tetap mempertahankan tingkat efisiensi pada sub sektor manufaktur adalah dengan mengupayakan pemanfaatan sumber daya alam, sumber daya manusia (tenaga kerja), modal maupun teknologi dengan sebaik-baiknya sehingga dapat mempunyai prospek pasar yang besar baik di dalam maupun di luar negeri. Sehingga industri tersebut dapat dinikmati secara luas oleh masyarakat. Berdasarkan pada kriteria keunggulan kompetitif, maka klasifikasi industri di Jawa Tengah yang lebih unggul dibandingkan dengan tingkat nasional adalah KLUI 31, KLUI 32, KLUI 33, KLUI 35, KLUI 39. Klasifikasi-klasifikasi industri tersebut di Jawa Tengah lebih unggul daripada tingkat nasional karena rij > rin . Sedangkan berdasarkan pada kriteria tingkat spesialisasi, maka klasifikasi industri di Jawa Tengah yang lebih spesialis daripada tingkat nasional adalah KLUI 33, KLUI 34, KLUI 35, KLUI 37, KLUI 38 dan KLUI 39. Hal ini disebabkan karena E' ij > Eij . Sektor-sektor yang tidak mempunyai keunggulan kompetitif dan spesialisasi di Jawa Tengah dari sisi tenaga kerja harus lebih di perhati kan pengembangannya, terutama yang menyangkut kualitas dan biaya ekonomi, melalui peningkatan pendidikan dan pelatihan, baik formal maupun informal. Hal ini dimaksudkan agar pada sektor-sektor yang tidak mempunyai keunggulan kompetitif dan spesialisasi dapat dihasilkan produk yang berkualitas dengan biaya ekonomi yang rendah, sehingga mampu menjadi daya saing yang kuat di pasaran.


Kesimpulan dan Rekomendasi

Berdasarkan jurnal tersebut dapat disimpulkan bahwa sebetulnya rata-rata sub sector industry manufaktur di Jawa Tengah sudah mampu memanfaatkan inputnya dengan maksimal, ditandai dengan asumsi CRS yang telah menunjukkan nilai 100%. Namun memang tidak semuanya telah mencapai nilai 100%. Untuk subsector yang telah mencapai nilai 100% hal itu harus dipertahankan. Namun bagi subsector yang belum mencapai nilai tersebut maka efisiensi harus ditingkatkan, seperti  efisiensi biaya operasional, peningkatan kualitas kerja dengan melakukan pelatihan, pemanfaatan SDM, SDA, dan modal maupun teknologi dengan sebaik-baiknya yang dilakukan baik secara formal maupun non formal. Semua hal ini dimaksudkan agar sector-sektor yang nilainya masih dibawah 100% ini bisa memiliki daya saing yang lebih kuat lagi di pasaran di masa mendatang.

Sabtu, 26 November 2011

Analisis Jurnal


Judul                          : Analisis Distribusi dalam Pembentukan Harga Komoditas Cabai dan Implikasinya Terhadap Inflasi
Nama Pengarang      : Nugroho Joko Prastowo, Tri Yanuarti, Yoni Depari
Tahun                         : 2008
Tema                          : Pembentukan Harga Komoditas Cabai



LATAR BELAKANG MASALAH
  • Fenomena
Komoditas cabai di Indonesia setiap tahunnya mengalami pergerakan harga naik dan turun yang begitu fluktuatif. Apalagi pada musim-musim tertentu seperti mendekati hari-hari besar keagamaan dan saat perubahan iklim pancaroba. Harganya bisa melambung sangat tinggi bahkan melebihi 100%. Seperti contohnya pada fenomena mendekati Hari Raya Idul Adha kemarin, dimana harga cabai mencapai Rp 40.000/kg setelah sebelumnya harga cabai hanya berkisar antara Rp 20.000/kg.
  • Riset terdahulu
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik berikut ini adalah tabel bagaimana rata‐rata harga cabai pada berbagai tingkatan rantai pemasaran selama 3 tahun terakhir, 2007-2009 (dalam Rp)


  •  Motivasi Penelitian
Adapun motivasi penelitian ini bertujuan untuk menelaah peran distribusi dalam pembentukan harga komoditas.


METODOLOGI
  • Data
Data yang digunakan merupakan data sekunder dimana data tersebut diperoleh dari hasil penelitian yang sudah ada dilengkapi dengan data yang diperoleh dari instansi pemerintahan seperti data BPS (Badan Pusat Statistik).
  • Variabel
Yang menjadi variable dalam penelitian ini adalah harga cabai merah di tingkat eceran, pasokan cabai, permintaan cabai, harga BBM yang mencakup biaya transportasi, dan variable gangguan distribusi yaitu factor cuaca dan bencana alam.
  • Model Penelitian
Guna mencapai tujuan penelitian, metode yang digunakan dalam penelitian adalah:
a.      Metode deskriptif untuk memberikan gambaran secara jelas mengenai karakteristik dari komoditas cabai tersebut, seperti pola produksi dan konsumsi, pola distribusi, tata niaga dan mekanisme pembentukan harganya.
b.      Metode kuantitatif dengan menggunakan persamaan ekonometrik untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan harga dan menganalisis dampak distribusi terhadap pembentukan harga komoditas cabai.
c.       Metode survei yang ditujukan untuk memperoleh informasi tambahan mengenai mekanisme distribusi dan pembentukan harga komoditas, dan sekaligus ditujukan untuk mengkonfirmasi kesimpulan hasil analisis kuantitatif yang menggunakan data sekunder.


HASIL DAN ANALISIS PENELITIAN

Persamaan pembentukan harga untuk komoditas cabe merah lebih sederhana karena nyaris tidak ada kebijakan pemerintah yang ditujukan untuk mempengaruhi harga cabe merah sehingga lebih mengandalkan variabel produksi dan distribusi. Persamaan pembentukan harga cabe merah di tingkat pengecer adalah sebagai berikut:

PCt = τ0 + τ1 PCt-1 + τ2 Q’Ct + τ3 POt + τ4 DDISt + εct ........................... (8)

di mana PC merupakan harga cabe merah di tingkat eceran, Q’C merupakan selisih (gap) antara pasokan dan permintaan cabe merah, PO adalah harga BBM sebagai proksi dari biaya tansportasi, dan DDIS merupakan variabel dummy gangguan distribusi yang disebabkan oleh faktor cuaca dan bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Estimasi dilakukan menggunakan data bulanan dengan periode tahun 2003-2006 sesuai dengan ketersediaan data.
Berdasarkan hasil estimasi dari persamaan tersebut menunjukkan bahwa performa komoditas cabai masih bisa dikatakan bagus. Walaupun pembentukan harga cabe masih bersifat adaptif, namun persistensi harga cabe merah cenderung rendah. Untuk itu harga cabe merah lebih bergejolak (volatile) karena lebih sering mengalami penurunan persistensi. Sementara itu, pengaruh distribusi dalam pembentukan harga cabe merah cukup signifikan misalnya gangguan iklim yang berdampak kerusakan lahan perkebunan cabai. Sehingga bisa menyebabkan penurunan produksi. Bisa juga disebabkan karena kerusakan jalan sehingga menghambat pendistribusian cabai.
Cabe merah yang bersifat perishable (mudah rusak/busuk) dan transaksinya yang bersifat lintas wilayah akan semakin peka terhadap variabel distribusi dan menjadi komoditas penyumbang inflasi jika terjadi shock distribusi. Karena salah satu penyumbang inflasi terbesar adalah dari volatile foods (komoditas pangan) yaitu sebesar 27,2%. Yang hal ini disebabkan oleh adanya sifat perishable tersebut.


KESIMPULAN

Secara umum, faktor distribusi yang berpengaruh terhadap pembentukan harga komoditas dapat meliputi: biaya transportasi, gangguan distribusi, rantai distribusi, dan marjin keuntungan di setiap rantai distribusi. Hasil estimasi pembentukan harga komoditas utama penyumbang inflasi kelompok volatile foods mengindikasikan bahwa semakin cepat rusak/busuk (perishable) suatu komoditas tingkat fluktuasi harganya semakin tinggi dan ini terjadi pada komoditas cabai yang memiliki sifat perishable yang cukup peka.

 Tugas ini dikerjakan bersama Eka Agustianingsih

Selasa, 08 November 2011

Komoditas Cabai di Indonesia

 

Cabai termasuk salah satu komoditas penting rakyat Indonesia. Biasanya paling banyak digunakan dalam bentuk segar maupun olahan untuk konsumsi rumah tangga,industri pengolahan makanan,dan industri makanan. Selain itu cabai merah dimanfaatkan untuk pembuatan obat-obatan dan kosmetik. Cabai merah mempunyai luas areal penanaman paling besar diantara komoditas sayur-sayuran,sehingga permintaan terhadap komoditas ini cenderung besar. Oleh sebab itulah, pergerakan harga cabai sangat disoroti , apalagi seperti saat ini menjelang perayaan hari raya Idul Adha yang biasanya kenaikan permintaannya bisa tiga sampai empat kali lebih besar dibanding hari biasa. 

Sabtu, 05 November 2011

Kebijakan Harga


Dalam mengontrol kegiatan perekonomian pemerintah memiliki kebijakan-kebijakan tertentu. Seperti dalam penetapan harga untuk suatu barang, pemerintah memiliki 2 macam penetapan harga suatu barang, yaitu price ceiling dan price floor. Penetapan price ceiling dan price floor ini akan menyebabkan surplus dan shortage.

Gambar dibawah ini adalah gambar untuk kurva surplus dan shortage. Yang selanjutnya akan dibahas pada penjelasan dibawahnya.


Pergeseran Kurva Penawaran


Kurva penawaran tidak selamanya tetap. Dapat terjadi pergeseran dua arah, yaitu pergeseran ke kanan (kenaikan penawaran) dan pergeseran ke kiri (penurunan penawaran).
Pergeseran tersebut terjadi disebabkan beberapa faktor yang ikut mempengaruhi, yaitu:

1. Harga sumberdaya yang relevan
            Harga dari bahan baku / sumberdaya sangatlah berpengaruh terhadap kurva penawaran. Apabila terjadi kenaikan harga pada bahan baku utama tentu saja produsen harus memproduksi lebih sedikit produk jika tidak mau menambah biaya. Sementara itu jika harga bahan baku turun, maka dengan biaya yang sama produsen dapat memproduksi lebih banyak produknya.

2. Penggunaan teknologi
             Penggunaan teknologi terutama di era globalisasi ini memang sudah bukan hal asing lagi. Penggunaan teknologi ini dapat menekan biaya-biaya seperti biaya tenaga kerja, karena step-stepnya bisa dikerjakan secara otomatis oleh mesin.
Sementara jika tanpa penggunaan teknologi atau semua dilakukan secara manual seperti cara tradisional memerlukan jumlah tenaga kerja yang lebih besar dan tenaga kerja itu membutuhkan biaya untuk digaji. Maka dengan pengeluaran biaya tetap produk yang dapat dihasilkan akan lebih sedikit.

3. Banyaknya penjual
            Banyaknya jumlah penjual di pasar dengan jenis barang yang sama juga dapat mempengaruhi kurva permintaan. Jika jumlah penjual yang menjual barang yang sama terhitung banyak, ini akan membuat penawaran akan barang tersebut meningkat. Karena kesuksesan seseorang dalam berjualan sesuatu dan memperoleh laba yang banyak dapat meningkatkan minat penjual lainnya untuk mengulangi kesuksesan tersebut, sehingga penawaran akan barang tersebut oleh si produsen tentu akan meningkat melihat kesempatan seperti ini.
Sebaliknya jika jumlah penjual jenis barang tersebut sedikit maka otomatis penawaran dari produsen akan lebih sedikit karena sedikitnya jumlah penjual yang mau menjual produknya tersebut.

4. Perkiraan harga di masa depan
Perkiraan harga di masa depan yang rendah membuat produsen akan lebih memprioritaskan untuk memaksimalkan penjualan dalam waktu dekat untuk memaksimalkan keuntungan.
Sementara jika harga di masa depan diramalkan lebih baik maka ada kemungkinan penawaran saat ini ditunda untuk memperoleh laba maksimum di masa depan dengan melakukan sedikit penundaan untuk menunggu harga yang bagus. Maka  kurva penawaran bergeser ke kiri.

5. Pajak dan subsidi
            Kenaikan beban pajak dapat menyebabkan pergeseran kurva penawaran ke sebelah kiri karena dengan beban pajak yang bertambah maka produsen harus menurunkan jumlah produksinya jika ingin memproduksi dengan biaya yang sama, hal ini menyebabkan menurunnya jumlah penawaran.
Sementara pemberian subsidi dari pemerintah kepada produsen menggeser kurva penawaran ke sebelah kanan. Karena dengan biaya sama yang dikeluarkan produsen lalu ditambah dengan subsidi dari pemerintah maka produsen dapat memproduksi barang lebih banyak.
           
6. Pembatasan pemerintah
            Pembatasan pemerintah ini menyangkut kebijakan yang dibuat pemerintah kepada produsen. Misalnya kebijakan pemerintah untuk meningkatkan jumlah produksi suatu barang, maka otomatis jumlah penawaran oleh produsen akan meningkat. Begitupun sebaliknya jika pemerintah menetapkan kebijakan untuk menurunkan jumlah produksi suatu jenis barang maka jumlah penawaran produsen akan barang tersebut akan menurun.