Rabu, 06 Juni 2012

Mekanisme Perbankan


Bank memiliki mekanisme pelayanan sebagai alur untuk melayani nasabah dalam berbagai macam layanan yang dimiliki oleh bank tersebut. Berkaitan juga dengan fungsinya sebagai lembaga penyalur dan penghimpun dana masyarakat. Bank harus dapat mengelola dana dari masyarakat yang memiliki kelebihan dana (source of fund) dan dapat menyalurkannya ke masyarakat yang membutuhkan (use of fund). Pada sistem akuntansi perbankan juga memiliki sisi asset dan liabilities seperti akuntansi pada umumnya. Pada sisi asset terdapat cash reserves, loan, securities, dan other asset. Apabila ada kegiatan terjadi di sisi ini maka akan ada pertambahan di debet dan pengurangan di sisi kredit. Sementara itu di sisi liabilities terdapat deposito, securities, dan capital. setiap kegiatan yang terjadi di sisi ini akan menambah kredit danpengurangan pada debet.
Disini saya juga akan menjelaskan sedikit tentang mekanisme beberapa pelayanan pada bank.

KLIRING
Kliring adalah cara penyelesaian hutang-piutang dengan menggunakan surat berharga. Kliring ini bisa terjadi jika nasabah ingin melakukan pertukaran dengan menggunakan uang giral. Pembayaran menggunakan uang giral ini tidak dapat langsung dilakukan begitu saja, pada aplikasinya untuk melakukan transaksi menggunakan uang giral ini harus melibatkan Bank Indonesia sebagai perantara dan termasuk sebagai pembuat peraturan mengingat perannya sebagai bank sentral. Dalam pelaksanaannya, untuk dapat melakukan proses kliring ini setiap bank harus memiliki simpanan giro masing-masing di Bank Indonesia, dan untuk jumlahnya ada peraturan tentang Giro Wajib Minimum (GWM). GWM ini adalah batas minimum sebuah bank harus melakukan simpanan giro mereka untuk dapat melakukan kliring. Jumlah GWM adalah sebesar 8% dari total jumlah uang simpanan pihak ketiga di bank tersebut. 

Berikut akan saya berikan contoh kasus untuk mengilustrasikan bagaimana mekanisme kliring.
Kasus 1 :
Edward, nasabah dari bank Siti membeli furniture sebesar 50 juta rupiah kepada bella yang merupakan nasabah dari bank karman. Edward melakukan pembayaran dengan menggunakan cek. Karena terdapat perbedaan bank diantara mereka, maka untuk transaksi mereka akan menggunakan proses kliring.
Proses kliring yang dilakukan antar bank siti dan bank karman in diperantarai oleh Bank Indonesia. Untuk dapat melakukan proses kliring ini kedua bank harus memiliki simpanan Giro di Bank Indonesia, yang jumlah minimumnya telah ditentukan yaitu sebesar 8% dari jumlah simpanan deposit nasabah di bank tersebut. Proses transfer antar kedua bank ini akan diselesaikan dengan transfer antar rekening Koran.
Edward akan memberikan cek kepada Bella. Bella akan mencairkan cek di bank karman, maka bank karman akan mengirimkan NDK (nota debet keluar) ke BI. Lalu BI mengirimkan Nota Debet Masuk (NDM) ke bank siti. Maka setelah itu uang pada tabungan Edward di bank siti akan berkurang seiring denga bella yang memperoleh tambahan uang pada tabungannya di bank karman.
Pencatatannya:
·         Bank Siti :
Debet giro Edward
Kredit r/k pada BI

·         Bank Karman :
Debet r/k pada BI
Kredit tabungan bella

·         Bank Indonesia :
Debet r/k bank siti
Kredit r/k bank karman
             
Jika pada kasus ini ditemukan bahwa uang Edward di tabungannya tidak mencukupi untuk membayar cek ini , maka aka nada yang bernama Tolakan Kliring. Tolakan Kliring disampaikan lewat surat yang biasanya hadir pada sore hari setelah di pagi hari surat permohonan kliring ini dikirimkan. Jika seorang nasabah tekena tolakan kliring ini maka orang tersebut berpotensi di blacklist  dari kegiatan kliring ini. Tolakan kliring juga menyebabkan berubahnya pencatatan yang berubah. Perubahannya adalah dengan membalik posisi pencatatan di atas, sehingga hasilnya menjadi :

Pencatatannya:
·         Bank Siti :
Kredit giro Edward
Debet r/k pada BI

·         Bank Karman :
Kredit r/k pada BI
Debet tabungan bella

·         Bank Indonesia :
Kredit r/k bank siti
Debet r/k bank karman

Kasus 2 :
Bella ingin memberikan hadiah kepada Edward yaitu dengan mengirimkannya uang sebesar 100 juta rupiah. Lagi lagi transaksi mereka akan menggunakan proses kliring.
Bella mengirimkan uang kepada Edward sejumlah 100 juta rupiah. Bank karman akan mengirimkan Nota Kredit Keluar (NKK) kepada BI. Lalu BI mengirimkan Nota Kebet Masuk (NKM) ke bank siti. Maka setelah itu uang pada tabungan Belladi bank karman akan berkurang seiring denga bertambahnya uang pada saldo tabungan Edward.
Pencatatannya:
·         Bank Siti :
Debet r/k pada BI
Kredit Giro Edward

·         Bank Karman :
Debet tabungan Bella
Kredit r/k pada BI

·         Bank Indonesia :
Debet r/k bank karman
Kredit r/k bank siti

Dalam mekanisme kegiatan deposit bank yang terdiri dari tabungan, depsito berjangka, dan giro, ketiga komponen ini dianggap sebagai suatu kewajiban karena sesungguhnya bank memiliki kewajiban untuk mengembalikan dana tersebut ke nasabahnya. Itulah kenapa rekening-rekening ini ditempatkan di sisi liability oleh bank. Bank ini juga melakukan pinbuk atau kegiatan pindah buku. Pinbuk ini sendiri dibagi menjadi dua yaitu pinbuk debet dan pinbuk kredit.
Misalnya contoh kasus pada pemindah bukuan dari saldo deposito berjangka ke rekening tabungan. Bagi rekening deposito berjangka itu adalah pinbuk debet dikarenakan dananya berkurang di debet, sementara bagi rekening tabungan itu adalah pinbuk kredit dikarenakan adanya pertambahan dana ke rekening tabungannya.

Dalam cerita transaksi kliring ini tadi telah disebutkan bahwa adanya GWM. Nah dari patokan GWM ini dikenal lah adanya kalah dan menang kliring. Kalah atau menang ini adalah kelebihan atu kekurangan jumlah giro sebuah bank yang disimpan di BI. Jumlahnya ini dihitung berdasarkan patokan jenis surat / nota kliring pada suatu bank ini jumlah akhirnya + atau – sesuai dengan peraturan bagaimana surat tersebut berpengaruh pada saldo di BI. Berikut adalah peraturan surat kliring terhadap nilai saldo di BI :


Contoh penghitungan komposisi simpanan kliring pada BI :
Misalkan bank siti memiliki nilai deposit sebesar 100 juta, maka GWM untuk bank siti adalah sebesar 8 juta, bank siti melakukan simpanan giro pada BI sejumlah 8 juta saja sesuai dengan GWM. Lalu ada  bank karman yang memiliki jumlah deposit 200 juta dan berarti jumlah GWMnya 16 juta, bank ini memilih untuk melakukan simpanan giro sebesar 20 juta pada BI, melampaui GWMnya. Berarti bank karman ini memiliki 16 juta LRR (Legal Reserve Requirement) sebagai GWM wajib  dan 4 juta ER (Excess Reserves) sebagai kelebihan simpanan yang bisa digunakan untuk berjaga-jaga. Nah suatu saat bank siti mengalami kalah kliring sebesar 2 juta, maka skemanya seperti dibawah ini.

Bank siti mengalami kalah kliring sebesar 2 juta, nah jika saldo simpanan kliringnya dijumlahkan maka hasilnya hanya 6 juta yang berarti kurang dari GWM. Untuk itu bank siti harus membayar dulu hutang simpanan gironya yg sebesar 2 juta minimal itu sampai memenuhi GWM untuk dapat melakukan transaksi giro lagi. Karena jika jumlah simpanan giro suatu bank dibawah GWM maka bank tersebut tidak akan bisa melakukan transaksi dengan menggunakan giro lagi sampai jumlah GWMnya terpenuhi. Tetapi pembayaran kekurangan ini tidak dapat dilakukan dengan langsung menyetorkan uang sejumlah 2 juta kepada bank Indonesia. Bank siti harus mencari teman bank lainnya yang memiliki ER untuk dipinjam guna menutupi kekurangan GWMnya kepada bank. Maka dalam kasus ini pergilah bank siti ke bank karman dan meminta pertolongan pinjaman ER. Nanti bank siti harus membayar cicilan + Bunga kepada bank karman. Proses ini disebur dengan Call Money yaitu dimana bank yang memiliki kekalahan kliring harus meminjam kemenangan kliring bank lain karena untuk menutupinya tidak dapat langsung menyetorkan uang ke Bank Indonesia.
Nah disinilah gunanya para pekerja pekerja di bank yang harus dapat menganalisis dengan cepat dan tepat tentang berapa jumlah simpanan giro yang harus di titipkan pada BI. Dalam prakteknya di Indonesia masih ada beberapa bank yang daya analisisnya buruk dan akhirnya bank tersebut terus –terusan mengalami kalah kliring yang menyebabkan dia harus meminjam simpanan giro terus dan sudah sampai terlalu banyak dimana bank tersebut sudah tidak mampu membayar dan kepercayaan bank lain pun sudah tidak ada untuk memberikan simpanan giro kepada bank tersebut, maka bank tersebut akan segera menghadapi likuidasi dikarenakan tingkat likuiditas perusahaannya yang buruk.


Kliring Luar Negeri
Kliring juga dapat terjadi antara dua negara. Misalnya untuk kasus dengan gambar dibawah ini.
Atun di Saudi ingin mengirimkan uang kepada Joko di Indonesia, maka Atun harus mencari bank di Saudi yang memiliki correspondent (hubungan) dengan bank di Indonesia. Ditemukanlah misalnya bank of Saudi yang memiliki correspondent dengan bank BNI. Setelah ditemukan bank ini, ada 2 cara yang dapat dilakukan, yaitu: 
  1.  Bank draft : Atun akan memberikan uang ke bank of Saudi dan mengatakan bahwa ia ingin mengirim uang ini kepada Joko di Indonesia, maka Atun akan diberikan sebuah surat yang harus dikirimkan kepada Joko, dimana dengan surat itu Joko dapat menebusnya di Bank BNI terdekat untuk mencairkan uangnya.
  2.  Payment order : disini Atun sebagai nasabah dari bank of Saudi akan mengajukan permohonan transfer, lalu bank of Saudi akan melakukan kliring dengan bank BNI dimana Joko terdaftar sebagai nasabah disana, lalu Joko akan dapat mengambil uang pemberian Atun ini di Indonesia.

TRANSFER
Transfer adalah jasa bank untuk pengiriman dana, baik itu ke sesame bank atau ke bank lain, di daerah yang sama atau dengan daerah yang berbeda atas permintaan nasabahnya. Pada transfer disini akan dijelaskan mekanisme dari dua macam transfer antar daerah.

Transfer Antar Daerah #1

Pada kasus dari gambar diatas ini adalah Atun yang merupakan nasabah dari bank BRI Jakarta ingin mengirimkan uang kepada Joko yang merupakan nasabah dari bank BPD Papua. Maka agar uang tersebut dapat sampai ke tangan Joko harus dilalui berbagai tahapan terlebih dahulu. Karena BPD Papua tidak memiliki cabang di Jakarta maka BRI mencari kota dimana disana terdapat cabang dari BPD Papua dan juga cabang dari bank BRI itu sendiri. Contohnya misalnya di kota Makassar. Untuk dapat sampai uang tersebut maka  BRI Jakarta harus mentransfer uang kepada BRI Makassar dan setelah itu BRI Makassar akan melakukan kliring dengan BPD Papua di Makassar melalui perantara BI agar dana itu bias sampai di BPD Papua cabang Makassar yang selanjutnya uang tersebut akan di transfer kepada BPD papua agar bias sampai ke tangan Joko.
Pencatatannya : 
·         Bank BRI Jakarta :
Debet tabungan atun
Kredit Rekening Antar Kantor (RAK)

·         Bank BRI Makassar :
Debet RAK
Kredit r/k pada BI

·         BPD Papua Makassar :
Debet r/k pada BI
Kredit RAK

·         BPD Papua :
Debet RAK
                    Kredit giro joko

Transfer Antar Daerah #2

                             Pada kasus dari gambar diatas ini adalah Atun yang merupakan nasabah dari bank Niaga Jakarta ingin mengirimkan uang kepada Joko yang merupakan nasabah dari bank BPD Papua. Maka agar uang tersebut dapat sampai ke tangan Joko harus dilalui berbagai tahapan terlebih dahulu. Pada kasus ini bank Niaga tidak memiliki cabang di tempat yang sama dengan BPD Papua, karena itu bank Niaga mencari bank lain yang memiliki cabang di tempat yang sama dengan BPD Papua, nah ditemukanlah bank BRI. Sebetulnya tahapannya dengan kasus sebelumnya adalah sama, hanya saja di kasus ini sebelum terjadi transfer antara bank BRI Jakarta dan BRI Makassar terjadi dulu kliring antara bank Niaga Jakarta kepada bank BRI Jakarta. Lalu yang lain berlangsung sama kemudian. Untuk pencatatannya pun sudah dapat terlihat di gambar di atas.


Kliring Luar Negeri
Kliring juga dapat terjadi antara dua negara. Misalnya untuk kasus dengan gambar dibawah ini.

Atun di Saudi ingin mengirimkan uang kepada Joko di Indonesia, maka Atun harus mencari bank di Saudi yang memiliki correspondent (hubungan) dengan bank di Indonesia. Ditemukanlah misalnya bank of Saudi yang memiliki correspondent dengan bank BNI. Setelah ditemukan bank ini, ada 2 cara yang dapat dilakukan, yaitu:
1.       Bank draft : Atun akan memberikan uang ke bank of Saudi dan mengatakan bahwa ia ingin mengirim uang ini kepada Joko di Indonesia, maka Atun akan diberikan sebuah surat yang harus dikirimkan kepada Joko, dimana dengan surat itu Joko dapat menebusnya di Bank BNI terdekat untuk mencairkan uangnya.
2.       Payment order : disini Atun sebagai nasabah dari bank of Saudi akan mengajukan permohonan transfer, lalu bank of Saudi akan melakukan kliring dengan bank BNI dimana Joko terdaftar sebagai nasabah disana, lalu Joko akan dapat mengambil uang pemberian Atun ini di Indonesia.

PORTOFOLIO KEUANGAN

Portofolio keuangan ini bertugas untuk menunjukkan bagaimana neraca bank memperlihatkan posisi keuangan Bank baik dari segi sumber dana Bank ( Resource of Fund ) ataupun dari segi penggunaan dana ( Use of Fund ) . Dari sisi assets neraca Bank terdapat cash reserves yang terdiri dari kas dan rekening koran pada BI , cash reserves merupakan penentu likuidasi suatu bank , jika suatu bank mempunyai masalah terhadap cash reserves maka bank tersebut juga mempunyai ancama untuk dilikuidasi. Lalu loan atau pinjaman dari bank kepada masyarakat, ini adalah cash outflow terbesar. Dana loan ini berasal dari deposit yang merupakan kumpulan dana dari nasabah atau pihak ketiga. Dana loan harus memenuhi syarat seperti gambar dibawah ini.


Selain itu bank juga memiliki KUK (Kredit Usaha Rakyat)/ KIK  yang berjumlah seminimalnya 20% dari jumlah loan.
Dari sini dapat dijelaskan bahwa loan tentu saja melibatkan deposit dan capital, yang dengan keadaan ini bisa memungkinkan bank untuk menjadi penambah nilai modal atau money multipier sebesar 10% dan bank juga harus menerapkan prinsip kehati-hatian karena ada dana loan yang berasal dari capital. Semakin tinggi nilai deposit maka tentu nilai modal akan semakin tinggi.
Untuk securities, kepada securities di sisi asset transaksi di dalamnya itu adalah pembelian surat berharga, obligasi, dll. Intinya dia bertugas menyalurkan dana yang telah dihimpun. Sementara pada securities di sisi liabilities securitas seperti obligasi, saham, dll ini adalah yang harus dijual kepada masyarakat untuk menghimpun dana.

METODE PERHITUNGAN BUNGA TABUNGAN
Pada setiap akhir periode seorang nasabah pasti mendapatkan bunga dari tabungan yang dimilikinya. Bunga atau tambahan dana ini akan terakumulasi secara otomatis kedalam jumlah rekening tabungannya. Dan untuk setiap pertambahan dana yang disebabkan oleh bunga ini akan terakumulasi juga dengan dana aslinya dan menjadi saldo awal di awal bulan selanjutnya. Rumus untuk perhitungan bunga tersebut adalah :
Contoh ilustrasi adalah misalnya Atun yang memiliki rekening di bank siti dan berikut adalah :

 Metode penghitungan bunga pada bulan mei ini bisa dengan tiga cara, yaitu :
1.       Metode saldo terendah : perhitungan bunga dengan menggunakan saldo terendah selama bulan berjalan.


2.       Metode saldo rata-rata : perhitungan bunganya didasarkan pada saldo rata-rata nasabah dalam bulan berjalan. Sehingga saldo memang harus dihitung terlebih dahulu rata-rata hariannya.

3.       Metode saldo harian : disini bunga tabungan dihitung dengan menjumlahkan perhitungan bunga setiap hari.

METODE PERHITUNGAN BUNGA KREDIT
Penghitungan bunga kredit dapat dilakukan dengan 2 cara:
  • Flat (pembayaran cicilan sama per bulan): bunga flat ini kebanyakan digunakan pada hutang jangka panjang, investasi, dan leasing jangka panjang. Misalnya jika atun meminjam 10 juta ke bank dengan bunga 10% untuk tiga tahun, maka cicilan perbulan yang harus dibayarnya adalah :
  • Annuitas (pembayaran cicilan berbeda tiap bulan): bunga metode ini biasanya digunakan oleh credit card. Contohnya adalah kredit atun seperti dibawah ini:
Cara penghitungannya :


Penambahan biaya administrasi dilakukan di akhir setelah penghitungan bunga selesai.









0 comments:

Posting Komentar