Kamis, 09 Februari 2012

Akuntansi Kini Tak Selalu Statis

Akuntansi adalah seni mengukur, berkomunikasi dan menginterpretasikan aktivitas keuangan. Yang dilakukan dengan cara pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian mengenai informasi yang akan membantu manajer, investor, otoritas pajak, dan pembuat keputusan lain untuk membuat alokasi sumber daya keputusan di dalam perusahaan, organisasi, dan lembaga pemerintah. Tujuan akuntansi adalah untuk menyiapkan sebuah laporan keuangan yang akurat agar dapat dimanfaatkan oleh para manajer, pengambil kebijakan, dan pihak lainnya yang berkepentingan. Akuntansi sendiri memiliki beberapa bidang yaitu akuntansi biaya, akuntansi dana, akuntansi forensik, akuntansi keuangan, akuntansi manajemen, akuntansi perpajakan, akuntansi pemerintahan, akuntansi pemeriksaan, dan sistem akuntansi. Saya akan mengupas lebih dalam seputar akuntansi ini ...

Akuntansi biaya adalah bidang akuntansi yang berkonsentrasi pada perencanaan, penetapan, dan pengendalian biaya produksi. Akuntansi dana adalah bidang akuntansi yang berkonsentrasi pada rencana pengeluaran perusahaan dan membandingkannya dengan pengeluaran aktual. Akuntansi forensik adalah bidang akuntansi yang berkonsentrasi pada gambaran keterlibatan yang dihasilkan dari perselisihan aktual atau yang diantisipasi. Akuntansi keuangan adalah bidang akuntansi yang berkonsentrasi pada pencatatan transaksi hingga penyajian laporan keuangan. Akuntansi manajemen adalah bidang akuntansi yang berkonsentrasi pada pengembangan dan penafsiran informasi akuntansi untuk membantu manajemen menjalankan perusahaan. Akuntansi perpajakan adalah bidang akuntansi yang berkonsentrasi pada penyiapan data yang diperlukan untuk perhitungan pajak. Akuntansi pemerintahan adalah bidang akuntansi yang berkonsentrasi pada penyajian laporan keuangan yang dilakukan pemerintah. Akuntansi pemeriksaan adalah bidang akuntansi yang berkonsentrasi pada pemeriksaan catatan-catatan akuntansi secara bebas. Lalu yang terakhir adalah sistem akuntansi yang berkonsentrasi pada perencanaan dan pelaksanaan prosedur pengumpulan serta pelaporan data keuangan.
Program studi akuntansi kini menduduki peringkat teratas di tingkat perguruan tinggi pada kelompok Ilmu Pengetahuan Sosial, dengan tingkat kesulitan yang tinggi untuk dapat ditembus masuk dikarenakan ketatnya persaingan dari banyaknya peminat. Hampir seluruh universitas di dunia memiliki program studi akuntansi sebagai salah satu pilihan bagi calon mahasiswa/i-nya. Besarnya minat para pelajar untuk mengambil program studi akuntansi ini disebabkan oleh banyak hal. Hal-hal seperti banyaknya pilihan bidang pada program studi akuntansi sebagaimana yang telah disebutkan diatas, faktor prestise karena program studi akuntansi dianggap bergengsi, dan juga faktor dorongan dari orang tua bisa jadi salah satunya. Biasanya beberapa orang tua menyarankan anaknya mengambil program studi akuntansi di bangku perkuliahan agar dapat membantu bisnis mereka dengan melakukan pembukuan yang lebih rapi dan mengatur keuangan dengan lebih baik. Mahasiswa akuntansi juga dianggap bergengsi karena kesulitan yang tinggi untuk bisa menembus program studi tersebut, terutama di perguruan tinggi negeri yang ternama. Jadi lulusan program studi akuntansi dianggap memiliki nilai jual yang tinggi di dunia kerja kelak. Setiap perusahaan pasti membutuhkan seseorang untuk melakukan pembukuan keuangan perusahaannya secara sistematis, jadi bayangkan saja bagaimana setiap perusahaan pasti membutuhkan jasa seorang akuntan. Dibalik semua itu, akuntansi memang penting dipelajari oleh semua orang karena tanpa disadari banyak sekali hal-hal kecil di kegiatan kita sehari-hari yang sangat berkaitan dengan akuntansi.
Paradigma masyarakat tentang dunia kerja yang akan digeluti oleh mahasiswa/i akuntansi adalah berpenampilan rapi, berdasi, bekerja kantoran di gedung, ber-ac, dan tentunya berpenghasilan menjanjikan. Tapi dibalik semua itu, menjadi lulusan dari program studi akuntansi juga berarti harus siap bekerja di balik meja, sepanjang hari menatap komputer, berkutat dengan angka dan jurnal, memeriksa data perusahaan bertumpuk, menghitung uang orang lain dengan jumlah sangat besar tanpa memiliki uangnya, waktu kerja yang tak tentu, dan pekerjaan yang terhitung monoton karena kurangnya interaksi dengan orang lain serta ritme yang senantiasa sama. Bisa dibilang bekerja di bidang yang berhubungan dengan akuntansi itu … statis. Ini bisa menjadi hal yang sangat membosankan.
Paradigma tentang bidang akuntansi yang statis itu hadir karena sempitnya pola pikir masyarakat tentang pekerjaan yang bisa dilakukan oleh seorang lulusan program studi akuntansi. Memang peluang kerja dengan dasar pendidikan akuntansi dinilai besar karena setiap perusahaan, besar maupun kecil, pasti membutuhkan tenaga seseorang yang mengerti bidang akuntansi untuk mengurusi bidang keuangan dan perpajakan perusahaannya. Tetapi pola pikir masyarakat selama ini tentang jabatan yang mampu dipegang oleh seorang sarjana akuntansi masih itu-itu saja. Masih tentang akuntan publik, auditor, staf keuangan, praktisi saham, atau tenaga pendidik. Masih tentang menjadi pegawai dan bekerja kepada orang lain. Masih tentang kegiatan statis di atas meja, menenggelamkan diri bersama tumpukkan berkas transaksi. Walaupun tanpa kerja seorang akuntan para direksi, manajer, dan supervisor akan kesulitan dalam mengambil keputusan dan meraba kemampuan perusahaannya sehingga akan sulit untuk dapat menganalisis seberapa besar keuntungan perusahaan, pergerakan saham, debitor nakal, efisiensi dana, dll. Tetapi paradigma tentang seorang sarjana akuntansi yang ujung-ujungnya hanya akan menjadi orang kedua dan tidak pernah bisa menjadi pemimpin utama yang memegang keputusan penting dalam perusahaan ini masih tetap ada.
Para akuntan dianggap hanya mampu mencapai level tertinggi pada jabatan direktur keuangan, selanjutnya para akuntan dinilai akan sangat kesulitan untuk tembus mencapai jabatan direktur utama. Paradigma ini muncul dikarenakan anggapan bahwa para akuntan ini tidak pernah diajarkan untuk menjadi pengambil keputusan strategis dalam perusahaan, hanya sebatas menyediakan informasi keuangan ke manajemen saja yang diajarkan di bangku perkuliahan. Jadi hal ini membentuk karakter akuntan yang sama dengan buruh. Tentu ini bukan suatu paradigma yang bagus.
Padahal kurikulum perkuliahan saat ini sudah mulai menekankan pentingnya softskill kepada mahasiswa/i-nya, mata kuliah yang diberikan, serta materi yang dibahas juga tidak melulu hanya teori tentang bagaimana cara membuat laporan keuangan. Para mahasiswa juga dilatih aktif untuk dapat menganalisis dan lalu menentukan keputusan. Jadi sebetulnya paradigma ini harus kita tepis bersama. Lagipula banyak juga akuntan yang bisa menembus level tertinggi di perusahaannya. Seperti Emirsyah Satar yang dari seorang akuntan bisa menjadi pilot sekaligus direktur utama PT. Garuda Indonesia, beliau dapat menjadikan pengalamannya sebagai direktur keuangan di beberapa bank dan di PT. Garuda Indonesia menjadi kemampuan untuk memimpin maskapai penerbangan terbesar di Indonesia ini. Selain itu ada juga Sergio Machionne, seorang akuntan yang mampu menjabat direktur utama di sebuah perusahaan otomotif terkemuka di dunia bernama Fiat Group. Ada lagi Eva Riyanti yang juga pernah menjabat sebagai direktur utama PT. Indofood Sukses Makmur, padahal beliau seorang akuntan yang tidak memiliki pengetahuan dasar tentang produksi mie. Atau Sandiaga S. Uno tokoh muda yang kini memimpin beberapa perusahaan seperti PT. Adaro Energy Indonesia dan PT. Saratago Investama Sedaya. Dan Erry Firmansyah, mantan direktur Bursa Efek Jakarta ini bisa dibilang memiliki prestasi yang fantastis, beliau menjadi komisaris di 9 perusahaan besar, dan ini dianggap sebagai pencapaian yang terbaik dari seorang eksekutif professional.
Dari contoh orang-orang sukses tersebut terlihat bahwa sebetulnya akuntansi kini tak statis lagi. Mereka seharusnya menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk sadar bahwa jaman sudah berkembang, dunia kini berada di masa globalisasi. Informasi beredar bebas untuk didapatkan siapapun dengan jauh lebih mudah. Seorang akuntan itu tidak harus selalu berada di meja dengan kacamata tebal, menatap komputer sepanjang hari, dengan tumpukan transaksi serta data keuangan perusahaan. Bekerja statis seperti itu dan berulang setiap hari. Seorang akuntan itu bisa juga bekerja dinamis, berinteraksi dengan banyak orang, melakukan hal-hal baru, dan bahkan menciptakan hal baru. Seorang akuntan itu bisa juga menempati posisi tertinggi di perusahaannya, tidak perlu selalu menjadi yang kedua atau dikatakan berkarakter buruh. Seorang akuntan itu bisa juga mengambil keputusan penting dan menjadi big boss-nya.
Sebetulnya akuntansi itu tak selalu statis. Karena akuntansi adalah ilmu universal yang perlu dimiliki oleh orang dengan jenis pekerjaan apapun. Semua aspek kehidupan pasti berkaitan dengan akuntansi. Justru seharusnya seorang akuntan itu bisa lebih unggul dan lebih mudah untuk menjadi orang dengan jabatan teratas pada perusahaan. Bahkan bukan tidak mungkin seorang akuntan itu dapat menjadi wirausahawan, seseorang yang membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain, bukan lagi sekedar menjadi orang yang bekerja pada orang lain. Karena cabang ilmu akuntansi itu adalah bahasa bisnis yang dapat mengkomunikasikan data-data perusahaan yang disajikan dalam bentuk laporan keuangan untuk dianalisis mengenai berbagai macam aspek seperti keuntungan perusahaan dan pergerakan saham. Hal ini bisa sangat menguntungkan bagi pengusaha tersebut untuk dapat mencari investor yang bisa membuat perusahaaanya menjadi lebih berkembang, apalagi jika ini masih perusahaan kecil-kecilan, jadi pemilik perusahaan bisa melakukan efisiensi dengan membuat laporan keuangannya sendiri dan tidak perlu membayar orang lain untuk melakukannya. Selain bisa menekan biaya pegawai, laporan yang dihasilkan pun bisa lebih maksimal dan tidak mungkin ditipu atau dicurangi, karena permasalahan yang berhubungan dengan uang itu memang selalu menjadi sasaran empuk bagi berbagai macam kejahatan manipulasi data. Ya, seperti kasus korupsi yang tak kunjung usai di Indonesia tercinta ini.
Seperti yang diketahui bahwa untuk menjadi negara maju dibutuhkan setidaknya 2% dari populasi masyarakatnya yang berprofesi sebagai wirausahawan, sementara di Indonesia populasi wirausahawan baru mencapai angka 0,18%. Sebagai generasi muda, seharusnya kesadaran bahwa di jaman seperti ini menjadi wirausaha sebetulnya lebih baik dan perlu ditingkatkan, terutama di Indonesia. Selain bisa membantu mencapai standar wirausahawan untuk negara maju, bisa juga membantu mengatasi salah satu permasalahan perekonomian yang paling besar di Indonesia ini, yaitu pengangguran. Karena seperti yang diketahui tingkat pengangguran di Indonesia cukup tinggi, yaitu sekitar 8,25%. Belum lagi kesejahteraan masyarakat Indonesia yang tidak merata. Dengan menjadi wirausahawan berarti akan terbuka lapangan kerja baru sehingga jumlah pengangguran akan berkurang dan kesejahteraan masyarakat pun akan membaik, walaupun mungkin tidak dalam skala besar. Tetapi dengan memiliki ilmu akuntansi wirausahawan dapat mengelola keuangan dan bisnisnya dengan baik sehingga potensi bisnisnya dapat membaik seiring waktu. Ini berita yang sangat bagus karena jika bisnisnya berpotensi bagus di masa depan, kemungkinan untuk datangnya investor menanamkan modal pada bisnisnya sehingga dia bisa mengembangkan bisnisnya akan besar juga. Dia juga tidak akan bisa ditipu dalam laporan keuangannya karena dia mengerti ilmunya. Ini akan membuat bisnisnya dapat berkembang dengan lebih cepat karena dia mengerti bagaimana harus bertindak. Menjadi wirausahawan juga berarti bebas berkreasi. Bisnis apa yang ingin digeluti, bagaimana bentuk dan karateristik produk, bagaimana model pemasaran, dll dapat dipilih sendiri sesuai keinginan sang wirausahawan. Ada kebebasan berekspresi dan berkreativitas. Kebebasan ini membuat semangat menjadi lebih besar dan kerja keras yang total karena bidang usaha yang digeluti sangat mewakili keinginan diri. Karena itu pengembangan usaha bisa lebih baik lagi karena semua dilakukan dengan sungguh-sungguh. Apabila nantinya menjadi perusahaan yang besar, tentu kontribusinya juga akan besar untuk perekonomian negara, apalagi jika perusahaannya termasuk usaha padat karya. Banyaknya tenaga yang diserap setidaknya akan memakmurkan masyarakat sekitar bisnis tersebut bertempat.
Menjadi wirausahawan adalah salah satu bukti bahwa lapangan pekerjaan bagi mahasiswa/i sarjana akuntansi tak selalu statis. Karena untuk menjadi wirausahawan, seseorang dituntut untuk memiliki kemampuan berkomunikasi yang bagus. Kepribadian juga menjadi faktor pendukung yang sangat berpengaruh, Menjadi wirausahawan juga berarti harus bertemu banyak orang. Kepada konsumen dia harus mampu mengkomunikasikan produknya dengan baik untuk dapat menarik minat konsumen untuk membeli produknya tersebut. Kepada para investor dia harus dapat mengkomunikasikan bisnisnya dengan baik agar investor tersebut tertarik untuk menanamkan modalnya pada bisnisnya tersebut agar dia dapat mengembangkan usahanya. Dengan kemampuan dasar akuntansi yang baik wirausahawan ini dapat membuat laporan keuangan yang baik serta dapat menjelaskannya kepada para investor, ini adalah nilai tambah sekaligus hal yang sangat baik untuk meminimalisasi bentuk bentuk kecurangan atau penipuan yang mungkin dilakukan oleh pembuat laporan keuangan ataupun oleh investor yang akan menanamkan modalnya. Kepada para karyawannya dia harus dapat memimpin dan membuat keputusan-keputusan seputar perusahaannya itu. Selain itu dia harus senantiasa berinovasi agar bisnisnya bisa terus maju dan tidak gulung tikar di tengah jalan. Ini bukan hal yang mudah, kemampuan manajerialnya juga harus bagus, wawasannya harus luas, kreatifitasnya harus diasah dan senantiasa digali.
Wujud dari ketidakstatisan akuntansi sebetulnya tak hanya dengan menjadi seorang wirausahawan. Masih ada begitu banyak profesi yang dapat digeluti oleh para sarjana akuntansi tanpa harus melalui rutinitas monoton di depan komputer dan mengurusi urusan orang lain. Menjadi seorang sarjana akuntansi sekarang ini tak perlu lagi terkesan kaku dan membosankan. Dengan menjadi sarjana akuntansi kita bisa bekerja apa saja dan dalam semua bidang. Pekerjaan dari sarjana akuntansi itu tidak terbatas.
Orang-orang seperti Emirsyah Satar, Sergio Marchionne, Eva Riyati Hutapea, Sandiaga S. Uno, dan Erry Firmansyah seharusnya menjadi inspirasi dan motivasi kita bahwa seorang sarjana akuntansi tidak harus selalu menjadi orang kedua dan bisa menjadi orang pertama dalam perusahaan yang membuat keputusan-keputusan penting, seorang sarjana akuntansi bisa menjadi lebih dari hanya seorang direktur keuangan, seorang sarjana akuntansi bisa menjadi direktur utama, bahkan bisa termasuk dalam eksekutif professional dengan pencapaian terbaik
Tetapi untuk mendapatkan semua itu tentu tidak bisa hanya dengan diam atau melakukan usaha yang ala kadarnya. Untuk mendapatkan sesuatu yang hebat selalu harus diikuti dengan usaha yang hebat juga, karena dalam hidup ini segala sesuatunya adalah sebab akibat.
Sebagai penerus bangsa, para generasi muda harus bisa lebih aktif dan kritis. Kalau memang paradigma tentang sarjana akuntansi seperti itu, para generasi muda harus melakukkan pembuktian dengan gebrakan baru. Paradigma itu kan paradigma jaman dahulu. Tunjukkan kalau kini semua sudah berbeda, kurikulum perkuliahan sudah berbeda, pola pikir sudah berbeda, dan sarjana akuntansi itu bisa mengambil keputusan penting.
Untuk semua itu hal paling pertama yang harus disiapkan adalah mental. Untuk menjadi akuntan yang sukses hingga level jabatan tertinggi harus memiliki mental yang kuat. Pola pikir harus lebih kritis dan diubah. Pola pikir dari hanya sekedar pembuat laporan harus berubah menjadi pengambil keputusan. Wawasan juga harus dibuka seluas mungkin. Kumpulkan semua informasi yang bermanfaat. Harus mau belajar keras dari semua sisi. Karena yang dituntut adalah bukan sekedar bisa menghitung atau menjurnal, tetapi harus bisa menganalisis dan mengerti betul bidang kerja dari perusahaan atau bisnis tersebut. Seperti contohnya jika seorang akuntan ingin mencoba bisnis di bidang agrobisnis ataupun ingin menjadi direktur utama di perusahaan bidang agrobisnis maka akuntan tersebut harus mau mempelajari seluk beluk agrobisnis tersebut, agar dia bisa lebih total terjun di bidangnya.
Tetapi selain menggali pengetahuan di bidang yang ingin ditekuni tadi, akuntan tersebut juga harus memperkaya keilmuannya dengan berbagai ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu bisnis. Dan proses pembelajaran ini harus senantiasa dipantau agar tetap bertambah dengan ilmu terbaru, karena perkembangan ilmu pengetahuan tak berbatas maka proses pembelajaran ini juga tidak boleh terhenti.
Intinya semua orang bisa menjadi apa saja yang dia inginkan, asal antara keinginan dan usaha seimbang. Dari semua ilmu di muka bumi ini sesungguhnya tidak ada penmbatasan wilayah pekerjaan, apalagi dari ilmu akuntansi yang memiliki kaitan yang sangat luas dengan berbagai kejadian sehari-hari. Akuntansi juga dikenal sebagai bahasa bisnis, bahasa itu adalah alat komunikasi, maka akuntansi juga bisa menjadi alat komunikasi yang bagus di dunia bisnis. Jadi tidak perlu takut untuk mengeksplor diri ataupun merasa terkotak-kotakkan hanya karena paradigma yang dimiliki masyarakat. Semua orang bebas berekspresi dan mengembangkan diri. Dengan kemauan dan kerja keras kita pasti bisa. Yang terpenting adalah melakukan yang terbaik dimanapun kita berada dan pada bidang apapun kita terjun.

1 comments:

UII Official mengatakan...

Terimakasih atas informasinya, sangat membantu.
salam kenal dari saya mahasiswa fakultas Ekonomi :)

Posting Komentar